Mading Sumber Inspirasi dan Pengembang Minat Bakat Siswa

Oleh: Nur Laely
Kepala SDN 1 Karangsari, Kec. Karangmoncol, Kab. Purbalingga

MADING adalah singkatan dari majalah dinding (bulletin board). Yaitu salah satu jenis media komunikasi yang dipajang di dinding (Tompkins dan Hoskinson, 1995). Dikatakan majalah dinding, karena mempunyai makna sejenis dengan majalah pada umumnya. Yaitu memuat informasi. Namun sebagai ciri pembedanya adalah mading dikemas pada papan yang dipajang di dinding. Pengertian dinding yang dimaksud adalah tempat yang strategis untuk memajang dan dapat dibaca oleh masyarakat pada umumnya.

Keberadaan majalah dinding pada suatu sekolah merupakan sumber inspirasi dan aspirasi bagi warga sekolah. Mading juga dapat dijadikan tolak ukur mutu aktivitas sekolah atau satuan pendidikan.

Mading bukan semata-mata milik siswa, tapi semua elemen yang ada di lingkungan sekolah. Baik kepala sekolah, guru, karyawan, maupun siswa. Ini mading di lingkup sekolah dasar. Beda lagi mading di lingkup SLTP, SLTA maupun di tingkat perguruan tinggi bisa saja mading di sana lebih didominasi oleh siswa ataupun mahasiswa.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) dikatakan bahwa majalah dinding adalah majalah yang tidak dirangkai. Tetapi berupa lembaran-lembaran yang ditempelkan pada dinding atau papan tulis (Balai Pustaka, 1990). Dengan demikian mading adalah sejenis majalah yang terdiri dari lembaran kertas atau informasi yang terpisah-pisah. Namun merupakan satu kesatuan edisi yang disajikan dalam sebuah papan atau bahan lain yang dipajang pada dinding secara tetap dan di tempat yang strategis.

Mading di tingkat pendidikan dasar sifatnya meneladani, mencontoh, menginspirasi, dan menggerakkan potensi siswa untuk berkarya. Sehingga mereka dapat mengembangkan bakat dan minat literasinya.

Agar mading senantiasa dapat terwujud dan terpampang, maka perlu motor penggeraknya. Siapa motor penggeraknya? Tidak lain dan tidak bukan adalah kepala sekolah, guru, dan karyawan yang ada di sekolah tersebut.

Agar mading dapat berjalan lancar maka perlu adanya pengelolaan, program, kemauan, dan adanya kesadaran dari semua stekholder yang ada di sekolah tersebut. Walaupun demikian adanya, namun tetap perlu memperhatikan dari kualitas input yang memadai. Kemudian sumber daya pengelolaan yang prima dan perlu ditunjang adanya reward sebagai penyemangat dan apresiasi bagi para civitas mading itu sendiri.

Mading sebagai sarana inspirasi, aspirasi, dan sarana komunikasi memerlukan pengelolaan yang baik. Mading yang berkualitas umumnya ditentukan oleh adanya ketajaman isi seperti gambar, cerita, berita, hasil karya, serta cara penataannya.

Penataan yang bagus tentunya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pemirsa. Apalagi jika isinya ada yang sedang trend di lingkungan sekolah dan merupakan opini siswa yang sangat digandrungi.

Dengan adanya mading diharapkan minat dan bakat siswa dapat berkembang sejalan dengan aktifnya anak dalam turut serta mengisi dan memeriahkan mading tersebut. Mading yang berkualitas tentunya tidak lepas dari adanya manajemen organisasi dan manajemen redaksional.

Manajemen organisasi yaitu mencangkup bidang usaha dan ketatausahaan atau bidang administrasi. Bidang ini bertanggung jawab atas kelancaran penerbitan mading sesuai masa terbitnya.

Sementara manajemen redaksi merupakan bagian yang mengurusi masalah penerbitan. Masing-masing manajemen memiliki tugas yang saling melengkapi demi terciptanya sebuah mading yang handal dan terpercaya. (*)