Dinilai Bahaya, Dishub Bantul Terbitkan Imbauan bagi Pemodifikasi Kereta Mini

Kepala Dishub Bantul Singgih Riyadi
Kepala Dishub Bantul Singgih Riyadi. (JANIKA IRAWAN/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bantul berikan imbauan kepada pengusaha karoseri atau bengkel kendaraan umum bermotor, untuk tidak melayani pembuatan, perakitan dan modifikasi kereta mini atau kelinci. Hal itu dilakukan, untuk menjaga keselamatan masyarakat.

Kepala Dishub Bantul Singgih Riyadi mengatakan, fenomena kereta kelinci sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Bahkan sebelum diterbitkannya Undang-undang (UU) Nomor 22 Tahun 2009, tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Umum.

Menurutnya, dalam UU tersebut di Pasal 277 secara faktual kereta kelinci merupakan kendaraan modifikasi. Serta, kendaraan yang dari aspek keselamatan tidak terpenuhi sama sekali. Seperti tidak ada kacanya, serta tidak adanya pelindung keselamatan untuk pengemudi dan penumpang.

Baca juga:  Turut Kawal Kelancaran Jalannya Pemilu

“Jadi berdasarkan UU, kendaraan tersebut menyalahi ketentuan dan mestinya tidak boleh beroperasi di jalan umum. Walaupun memang sebelum UU tersebut diterbitkan, sudah muncul beberapa kereta mini yang digunakan oleh masyarakat. Namun, jalan lalu lintas relatif masih sepi dan belum sepadat seperti sekarang, jadi masyarakat beranggapan belum membahayakan,” paparnya.

Namun, pihaknya menjelaskan dengan berkembangnya situasi dan bertambahnya jumlah kendaraan, otomatis kepadatan lalu lintas semakin besar. Sehingga kendaraan tersebut sangat membahayakan bagi masyarakat.

Kemudian, secara produksi kereta kelinci juga tidak sesuai ketentuan. Lantaran, ketentuan untuk memproduksi atau merakit kendaraan yang akan beroperasi di jalan umum wajib melalui uji tipe.

Baca juga:  Bupati Bantul Tekankan Masyarakat Tak Ada Ancaman Memilih Calon Tertentu

“Setelah dilakukan pengujian, nantinya akan diterbitkan Surat Registrasi Uji Tipe (SRUT). Dengan menyatakan kendaraan tersebut sudah memenuhi unsur-unsur keselamatan,” imbuhnya.

Pihaknya menambahkan, kereta kelinci pasti tidak mempunyai SRUT dan hanya dibuat oleh bengkel perorangan. Serta, kendaraan tersebut tidak mungkin dilakukan uji kelayakan atau KIR, sehingga risiko kecelakaan cukup besar.

Selanjutnya, pada 13 November lalu, pihaknya telah menerbitkan surat imbauan atau sosialisasi kepada beberapa bengkel pembuat kereta kelinci. Dengan memberikan pemahaman merakit kendaraan semacam itu menyalahi ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Mudah-mudahan ini menjadi bahan pertimbangan dari para pemilik bengkel. Kemudian, imbauan kami kepada masyarakat kalau mengadakan kegiatan masal bepergian, diusahakan tidak menggunakan kereta kelinci, karena sangat membahayakan,” pungkasnya.(cr13/sam)