Terdakwa Produksi Narkoba Dituntut Penjara Seumur Hidup

Penasihat Hukum Aldina Rahmat Danny (ARD), Nasrul Saftiar Dongoran
Penasihat Hukum Aldina Rahmat Danny (ARD), Nasrul Saftiar Dongoran. (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Terdakwa dalam kasus produksi pil ekstasi di Palebon, Pedurungan, Kota Semarang, Aldina Rahmat Danny (ARD) dituntut hukuman penjara seumur hidup pada sidang pertamanya. Penasihat Hukum Aldina Rahmat Danny (ARD), Nasrul Saftiar Dongoran mengaku keberatan atas putusan tersebut.

Menurutnya, kliennya merupakan korban dari Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) berupa ekploitasi pemaksaan meracik bahan kimia. Ia diperintah oleh seseorang bernama Kapten yang saat ini masuk daftar pencarian orang (DPO).

“Alasan pembelaan kami adalah ARD harus dibebaskan karena dia adalah korban TPPO, negara harus melindungi, harus memberi keadilan dan paling penting aparat penegak hukum bersama dengan ARD mengungkap pelaku utama, itu harapan kita,” katanya di Pengadilan Negeri Semarang, Selasa (21/11/23).

Nasrul menilai tuntutan seumur hidup atas dugaan memproduksi jenis narkotika adalah hal menyakitkan. Padahal fakta persidangan terdakwa merupakan korban yang ditipu, orang yang diekploitasi untuk melakukan bisnis haram.

Baca juga:  Peringatan HUT ke-477 Kota Semarang Dipastikan Lebih Meriah

“Seharusnya penuntut umum, dan kami bermohon kepada hakim untuk melihat posisi ini tidak seimbang. Posisi yang kemudian korban diekploitasi ini harusnya di kedepankan sesuai dengan UU TPPO bahwa dia adalah korban. Sehingga harus dilakukan perlindungan, rehabilitasi dan upaya-upaya perlindungan kepada korban,” tambahnya.

Ia menyayangkan jaksa penuntut umum tidak melihat fakta persidangan yang menyatakan bahwa ARD ini dipaksa dan diperintah oleh oknum Kapten untuk mengikuti perintahnya. Bahkan, kliennya juga hidup dalam tekanan lantaran diawasi selama 24 jam menggunakan CCTV yang ada di rumah produksi itu, serta diawasi juga oleh orang-orang dari Kapten.

“Mereka memang merasa terancam, dan merasa takut. Dia bercerita ke ibunya dia sempat diancam, ketakutan saat peristiwa penangkapan,” bebernya.

Baca juga:  Pendaftaran Calon Perseorangan Pilkada 2024 Dibuka Mulai 5 Mei

Dalam upaya meraih keadilan, pihaknya sudah mengajukan ARD untuk menjadi saksi ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) yang akan turut mengungkap jaringan dari Kapten tersebut agar penegak hukum dapat memberantas tindak pidana narkoba. Kini terdakwa ditahan di Lapas Kedungpane Semarang.

Sementara itu, JPU Slamet Margono menuturkan pertimbangan tuntutan seumur hidup karena tindakan terdakwa sudah tidak mengindahkan pemerintah memberantas narkoba. Ditambah lagi barang bukti kurang lebih 15,5 kilogram mengandung zat-zat yang tergolong di lampiran dalam UU Narkotika.

“Dari pengakuan terdakwa di persidangan mengakui bahwa mereka selama kurang lebih 3 minggu itu dengan sadar bahwa bahan yang diproses itu, mereka tahu kalau itu barang-barang terlarang. Sumbernya narkoba semua, sabu, sabu cair maupun pil itu akhirnya bisa dicetak menjadi pil ekstasi itu,” jelas jaksa.

Baca juga:  Specta Jateng Open Tennis Tournament 2024 Disambut Antusias

Ditanya mengenai perbuatan itu di bawah tekanan, Jaksa menyebut hal itu hanya versi pengacara. Disinggung terkait pengawasan dari CCTV, Jaksa Margono menilai itu hanya barang mati. Jika memang ada ada tekanan secara fisik, mereka mereka masih bisa melarikan diri. Namun hal itu tidak dilakukan.

“Dari keterangan terdakwa di depan persidangan terdakwa juga mengaku, berita acara di tandatangani tanpa tekanan. Juga kondisi terdakwa selama 3 minggu itu kalau dalam tekanan mereka itu melarikan diri juga bisa. Itukan tidak ada penjaga. Kecuali mereka berusaha melarikan diri, ditangkap, diintimidasi atau disuruh masuk lagi. Itu tidak pernah terjadi mencoba melarikan diri,” tandasnya. (luk/gih)