Membangun Habitus Literasi Siswa dengan Comic Life di Sekolah Dasar

Oleh: Kristiyani, S.Pd.SD.
Guru SDN 1 Kendengsidialit, Kec. Welahan, Kab. Jepara

PENDIDIKAN adalah proses untuk melahirkan kekritisan berfikir. Pendidikan diartikan sebagai usaha yang sangat sadar yang dilakukan oleh keluarga terdekat seperti orang tua baik ayah maupun ibu. Selanjutnya masyarakat, dan pemerintah melalui Kemdikbud RI, dengan menggandeng sistem pembelajaran baik formal maupun non formal pada kegiatan bimbingan disekolah, pengajaran, dan/atau latihan.

Pendidikan berlangsung di sekolah dan luar sekolah untuk mempersiapkan siswa agar dapat memainkan peranannya secara tepat dalam berbagai lingkungan hidup. Pendidikan di sekolah dasar menjadi tempat yang sangat strategis dalam menanamkan karakter secara kualitas dan kuantitas.

Pentingnya pendidikan di sekolah dasar yang wajib kita fahami bersama dalam dunia pendidikan. Pemahaman akan hal tersebut akan membantu pendidik menyiapkan secara inovasi tentang media pembelajaran secara menyengkan, gembira, dan berbobot dari segi kualitas pengembangan SDM. Tujuannya untuk menyeleksi bacaan mereka, namun bukan menjadi kaku ataupun harga mati.

Menurut Piaget, tahapan perkembangan intelektual anak pada usia 7 – 11 tahun adalah pada tahap operasional konkret. Pada tahap ini anak sudah dapat melakukan pemecahan masalah sederhana sesuai dengan pendapat atau argumentasi mereka. Namun pada tahap ini anak belum mampu berfikir abstrak karena pengetahuan mereka masih terbatas pada situasi konkret. Ini lah bukti kita sama-sama mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan.

Adapun penerapan gerakan literasi yang pertama, kegiatan membaca buku non pelajaran. Contohnya buku cerita, fabel, ensiklopedia, biografi, maupun novel. Kegiatan tersebut dilakukan selama 15 menit sebelum pembelajaran di mulai.

Kemudian, untuk penerapan gerakan literasi sekolah hanya dilaksanakan satu hari dalam satu pekan di hari Rabu. Selain hari rabu, siswa melakukan pembiasaan seperti setiap hari Jumat seluruh warga sekolah melakukan kegiatan Jumat Bersih dan juga untuk hari Kamis Ganjil, setiap bulan siswa melakukan Sedinten Bahasa Jawa (sehari berbahasa Jawa), dan lain sebagainya.

Masalah lain yang menjadi kendala dalam penerapan gerakan literasi di sekolah yaitu ketersedian buku bacaan yang kurang bervariasi. Sehingga membuat siswa merasa kurang antusias untuk membaca. Pengembangan media Comic Life sangat dibutuhkan di SDN 1 Kendengsidialit Welahan Jepara.

Media yang pernah digunakan oleh guru yaitu buku cerita bergambar seperti buku cerita tentang binatang atau fabel. Selain itu, di SDN 1 Kendengsidialit belum pernah menggunakan media Comic Life yang di dalamnya terdapat cerita yang begitu dekat dan terjadi dalam kehidupan sehari–hari siswa yang mengandung pesan moral. Juga memiliki nilai–nilai karakter yang dapat ditanamakan pada diri siswa.

Gerakan literasi sekolah ini perlu mendapat dukungan dari beberapa pihak. Antara lain guru, kepala sekolah, dan orang tua. Banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk mendukung adanya gerakan literasi sekolah. Salah satunya dengan penggunaan strategi atau dengan penggunaan media. Media literasi ini digunakan untuk meningkatkan antusias siswa dalam membaca buku, yang pada akhirnya diharapkan akan dapat menumbuhkan rasa gemar membaca pada siswa.

Kemenarikan suatu media tidak ditentukan dari mahal atau murahnya maupun frekuensi pengguna media tersebut. Tetapi tergantung pada kesesuaian antara karakteristik media dengan tahap perkembangan anak termasuk di dalamnya adalah komik.

Salah satu media pembelajaran di sekolah dasar yaitu media pembelajaran menggunakan bahan cetak. Media Comic Life ini juga termasuk pada media jenis cetak. Media bahan cetak ini tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penggunaannya.

Kelebihannya antara lain dapat memberikan informasi dalam jumlah banyak, mudah dibawa. Kemudian informasi yang diperoleh disesuaikan dengan minat dan kebutuhan yang akan dipelajari, serta apabila perlu perbaikan mudah dilakukan revisi. (*)