Metode Pendekatan Tingkatkan Kemampuan Anak Lamban Belajar

Oleh: Subariyati, S.Pd.SD
Guru SD N 2 Teguhan, Kec. Grobogan, Kab. Grobogan

SETIAP anak yang lahir di dunia memiliki potensi yang berbeda-beda, termasuk bakat dan kecerdasan. Sudah seharusnya sebagai pendidik, kita tidak menyamaratakan dan membanding-bandingkan antara anak yang satu dengan yang lainnnya. Sebaliknya, kita harus mengerti kekurangan, keterbatasan, dan keistimewaan anak baik dari segi fisik maupun psikis. Hal ini sesuai dengan kompetensi pedagogik yang harus dimiliki seorang pendidik. Salah satunya adalah menguasai karakteristik siswa.

Dengan mengenal karakteristik siswa, kita bisa mendapat gambaran yang lengkap tentang kemampuan awal siswa sebagai landasan untuk mencapai keberhasilan pembelajaran yang optimal. Kemudian mengetahui jenis pengalaman yang telah dimiliki oleh siswa sehingga guru bisa memberikan materi secara tepat.

Pada kelas III di SDN 2 Teguhan, Kecamatan Grobogan, Kabupaten Grobogan, ada peserta didik yang belum bisa membaca dan menulis dengan lancar. Anak tersebut tergolong anak yang mengalami lamban belajar.

Lamban belajar atau slow learner adalah anak yang mempunyai skor IQ di bawah rata-rata normal dan mempunyai tingkat keberhasilan yang relatif rendah pada tugas-tugas sekolah dibandingkan dengan anak-anak lain dalam kelas yang sama. Anak tersebut sulit mengikuti pembelajaran, belum bisa menghapal semua huruf dan seringkali terbalik-balik. Selain itu, dalam setiap kegiatan tanya jawab, anak ini pasif dan cenderung menarik diri dari teman-temannya. Kelambanan belajarnya merata pada semua mata pelajaran.

Berdasarkan keadaan tersebut, saya sebagai pendidik berusaha mencari pemecahan masalah. Langkah yang saya lakukan adalah mencari penyebab kelambanan belajarnya, mengenali anak dengan melakukan komunikasi kepada anak dan orang tuanya. Kemudian mencari cara mengatasi lamban belajar anak.

Identifikasi masalah dilakukan untuk memperoleh informasi tentang jenis-jenis kesulitan belajar yang dialami. Untuk mengantisipasi kekeliruan dalam klasifikasi dan agar dapat diberikan layanan pendidikan pada anak lamban belajar, saya menggunakan instrumen berupa daftar ceklis tentang perilaku anak.

Identifikasi dilakukan melalui observasi atau pengamatan selama tiga bulan setelah mengikuti pembelajaran di kelas. Dari hasil klasifikasi tersebut saya membuat perencanaan program dan tindakan pembelajaran yang sesuai dengan mempertimbangkan beberapa pendekatan.

Menurut Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional (2007:15), ada beberapa pendekatan. Yaitu pendekatan perkembangan, perilaku, kognitif, dan humanistik.

Agar hasilnya memuaskan, saya memadukan keempat pendekatan. Yaitu dengan melakukan berbagai langkah. Pertama, bekerja sama dengan orang tua/keluarga peserta didik di rumah. Tujuannya agar apa yang diterapkan dan diajarkan di sekolah juga dilanjutkan di rumah.

Kedua, bekerja sama dengan guru lain. Ketiga, menggunakan metode pembelajaran yang menarik. Contohnya belajar membaca dan berhitung dengan bermain. Keempat, membuat alat peraga dan media pembelajaran yang menarik.

Kelima, mengajak peserta didik yang lain untuk berpartisipasi aktif membantu temannya belajar membaca. Keenam, memberikan penghargaan atas keberhasilan peserta didik untuk memotivasi perkembangannya. Ketujuh, menciptakan budaya kelas yang mendukung pembelajaran yang menyenangkan.

Dari hasil pengamatan, cara yang saya lakukan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Peserta didik yang mengalami lamban belajar sudah mulai bisa membaca dan berhitung serta mampu bersosialisasi dengan teman-temannya.

Memadukan berbagai metode pendekatan ternyata mampu mengatasi kesulitan pada anak yang mengalami lamban belajar. Khususnya pada anak didik di Kelas III SDN 2 Teguhan, Kecamatan Grobogan, Kabupaten Grobogan. Jadi, mari kita kenali karakteristik peserta didik dengan baik untuk memberikan perencanaan pembelajaran yang tepat. (*)