Figur  

Tania Artpriend Novadella, Seniwati Muda yang Ingin Ciptakan Generasi Pecinta Tari

Tania Artpriend Novadella
Tania Artpriend Novadella. (UMI ZAKIATUN NAFIS/JOGLO JATENG)

SIAPA yang tak kenal seniman kondang pencipta Tari Kretek Kudus, Endang Tonny. Selain menciptakan puluhan koreografi tari, ia juga melahirkan gadis cantik yang tumbuh dengan darah seniman bernama Tania Artpriend Novadella. Lahir dan tumbuh di keluarga seniman, justru membuat Tania ingin menepis anggapan banyak orang tentang perspektif hidup yang penuh privilege.

“Meskipun saya berasal dari keluarga seniman, saya juga belajar dari nol dengan perjuangan yang tidak mudah,” ungkapnya saat ditemui Joglo Jateng di Sanggar Puring Sari, belum lama ini.

Tania mengingat memorinya di usia 3 tahun. Dulu, dirinya ikut serta bermain tari layaknya anak kecil. Lama kelamaan, dirinya mengaku senang dan merasa nyaman karena sering menang dalam ajang perlombaan.

“Tania kecil dikenal bukan karena anak Ibu Endang. Tapi justru dari ajang lomba menari baik di jenjang SD 02 Barongan, SMP 2 Kudus, dan SMA 2 Bae,” katanya.

Baca juga:  Berawal Terapi Asma, Atha Tekuni Renang hingga Raih Juara

Mahasiswi Pendidikan Seni Tari Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini mengaku ingin fokus dalam pendidikan seni. Ia ingin turut serta mengedukasi anak-anak sekolah agar bersama-sama memiliki jiwa yang kuat untuk melestarikan seni di Kota Kudus. Menurutnya, peran generasi muda justru sangat penting untuk melanggengkan karya seniman Kudus.

“Saya memang fokus ke pendidikan. Berbeda dengan Ibu. Selain ingin edukasi, saya juga ingin tidak bergantung pada Ibu. Biar mandiri saya merambah ke sekolah untuk membangun generasi seniman,” ujarnya.

Saat ini, Tania telah aktif mengajar tari di berbagai sekolah. Seperti TK Nawakartika, SD Widia Kirana, SMA 2 Bae Kudus, dan SMP PGRI.

“Yang jelas saya ingin membuat anak-anak mencintai tari. Dengan pesan yang selalu saya sampaikan boleh menciptakan tari tapi jangan melupakan tari yang sudah lama. Salah satunya Tari Kretek yang telah ada di Kudus harus dikenalkandan lestarikan,” terangnya.

Baca juga:  Kisah Inspiratif Lathifatul Asna, Wisudawan Terbaik S2 UIN Walisongo Semarang

Gadis kelahiran 04 November 1999, ini juga memiliki sederet prestasi lain. Di antaranya Juara 1 dan Juara Umum The Beauty Of Caping Kalo 2023, Juara 1 Duta Batik Tahun 2018, Juara 1 Putri Budaya 2018, Juara 1 Indonesia Menari Nasional Individu 2018. Kemudian Juara 1 FLS2N Tari Berpasangan 2018 dan Juara 1 Tari Kretek Individu 2018.

“The Beauty of Caping Kalo adalah satu dari sekian momentum yang paling terkenang. Bangga dan senang bisa berpartisipasi pada acara fashion show tersebut. Sebab selain menari saya juga bergelut di bidang modeling,” kata Tania.

Hingga kini, keseharian Tania tidak lepas dari dunia tari. Ia bersama Endang Tonny, diberi kepercayaan untuk menciptakan tari dari beberapa project seperti pembuatan tari khas Desa Japan dan Rahtawu.

“Dan baru-baru ini kami juga diminta pihak Puskesmas Rejosari untuk membuat tari persembahan. Deadline-nya semua sama. Akhir November selesai,” bebernya.

Baca juga:  Aisy Zain Asfa: Siswi SMA yang Mengagumi Sejarah dan Bercita-cita Menjadi Sejarawan

Namun, dibalik kesuksesan Tania, ia juga pernah merasakan momen terpuruk bahkan membuatnya ingin berhenti menari. Ia bercerita, pada 2019 sempat mengalami kecelakaan sepeda motor ketika pergi kuliah yang menyebabkan kakinya harus rehat total selama dua tahun. Tidak hanya itu, Ayah Tania, Supriyadi, pendiri Sanggar Puring Sari, tutup usia pada masa pandemic covid-19, tepatnya 2020 lalu.

“Saya sedih sekali. Belum sempat melihat kepergian bapak karena ketatnya masa covid. Hampir tidak mau meneruskan kuliah. Karena semangat kuliah bersumber dari Bapak. Ia yang sering mengantar saya,” ungkapnya.

Meskipun begitu, Tania berusaha bangkit dari kesedihan dengan berbekal motivasi dari Ibunda serta teman-temannya. Usai rehat dari kecelakaan ia berusaha mencoba menari lagi dan kembali menorehkan banyak prestasi.

“Harapannya tari di Kudus tetap lestari. Utamanya Tari Kretek jangan sampai dilupakan karya Endang Tonny. Apalagi sampai diakui dan dilestarikan pihak luar,” pungkasnya. (cr8/mg4)