Hobi Tanaman Sejak SMP, Jadikan Dimas Pebisinis Sukses Aglonema

RAWAT: Dimas saat menunjukkan perkembanggan tanaman aglonema di pekarangan depan rumahnya di Kotagede Yogyakarta, beberapa waktu yang lalu. (RIZKY ADRI KURNIADHANI/JOGLO JOGJA)

MENJADI pembisnis yang sukses adalah cita-cita setiap orang, hal itu yang dilakukan Dimas Hendra Adiputra dengan bisnis tanaman aglonema yang dimilikinya. Dengan ketekunannya serta hobi tanaman sejak SMP, membuatnya menjadi pebisnis sukses tanaman aglonema.

Dimas mengatakan, saat dirinya duduk di bangku SMP ia telah menyukai tanaman hias, yaitu kamboja/adenium, di mana ia senang mengumpulkan berbagai warna. Hingga saat SMA dirinya sudah menjual belikan tanaman yang dimilikinya.

“Saat saya kelas tiga, saya ikut pameran dan banyak tanaman yang laku, sehingga saya mengembangkan lahan dari 3×5 meter menjadi  15×5 meter di samping rumah,” ungkapnya belum lama ini.

Baca juga:  LSF-UIN Walisongo Berkolaborasi Budayakan Sensor Mandiri

Pria asal Yogyakarta itu menjelaskan, setelah memperluas lahan, dirinya mulai menambah jenis tanaman koleksinya, seperti gelombang cinta. Di mana saat 2006 dirinya membeli tanaman itu kurang lebih 200 daun untuk dirawat dan dijual nantinya. Saat itu harganya belum melambung tinggi pada 2007.

“Kemudian pada 2009 semua harga tanaman turun. Di mana harga anggrek yang biasanya stabil, harganya ikut turun juga. Akhirnya semua tak borongke (dijual semua, Red) dan melanjutkan kuliah dengan jurusan ekonomi,” jelasnya.

Saat dirinya masih kuliah dan menempuh semester akhir, pada 2013 ada rasa keinginan untuk terjun lagi berbisnis tanaman, di saat yang bersamaan ada pesanan tanaman dari teman untuk mencarikan aglonema dengan budget Rp10 juta bisa dapat berapa pot bungga.

Baca juga:  Pertahankan Lahan Pertanian di Bantul Bisa dapat Insentif PBB 70%

“Saat itu saya disuruh pergi kejakarta untuk mencarikan aglonema itu, dengan budget Rp10 juta, plus biaya akomodasi Rp3 juta saya berangkat dan mendapatkannya. Dari sana saya mulai suka dan bisnis aglonema,” tambahnya.

Ia menambahkan, pada 2014 ia memulai kembali bisnis tanaman aglonema, lantaran telah bisa mengembangkannya perlahan. Dimas kembali membangun pekarangan 3×5 meter di depan rumahnya khusus untuk tanaman aglonema.

“Sembilan bulan berselang, saya iseng-iseng untuk menjual tanaman aglonema ke salah satu aplikasi jual beli online dan banyak dari luar daerah yang membeli. Untuk satu daun aglonema dibandrol dengan harga mulai dari Rp10 ribu hingga paling mahal Rp10 juta. Harga itu sudah stabil daripada saat Covid-19 yang bisa mencapai Rp100 juta per potnya,” pungkasnya. (riz/all)