Kudus  

Ratusan Siswa MI Khurriyatul Fikri Asik Bermain Dolanan Tradisional

SEMANGAT: Nampak siswa sedang memainkan tongtek di Kampung Budaya Piji Wetam, pada Selasa, (5/12/2023). (UMI ZAKIATUN NAFIS/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng –  Sebanyak 197 siswa-siswi MI Khurriyatul Fikri Desa Pasuruan Lor Kecamatan Jati Kabupaten Kudus belajar aneka permainan tradisional. Mereka juga diajak mengenal ritus peninggalan di Kampung Budaya Piji Wetan dan mengenal nilai-nilai lokal peninggalan Sunan Muria. Tak hanya itu, ratusan anak-anak juga dikenalkan bagaimana mencintai budaya sejak dini. Mendengarkan cerita dongeng berbasis folklor setempat dan belajar kuliner tradisional dengan transaksi jual beli memakai uang koin dari kayu.

Koordinator Kampung Budaya Piji Wetan, Muchamad Zaini menjelaskan, Kampung Budaya Piji Wetan Kudus mengeluarkan program wisata edukasi bertajuk Folktarium Muria. Program ini, kata dia, ditujukan untuk mengenalkan kepada anak-anak dan generasi muda terkait nilai-nilai kebudayaan yang ada di Kawasan Muria.

Selamat Idulfitri 2024

“Kegiatan ini merupakan salah satu eksperimen budaya melalui Folktarium Muria. Yaitu  sebuah alihwahana folklor dan cerita rakyat ke dalam sebuah laboratorium budaya di KBPW. Yang diimplementasikan melalui bentuk permainan tradisional, edukasi sejarah, cerita dongeng folklor dan pengenalan nilai-nilai folklor di dalamnya.

Baca juga:  Baznas Kudus Susun 6 Agenda Selama Ramadan

Zaini menyebutkan banyak cerita rakyat dan folklor yang dikenalkan kepada anak-anak lewat kunjungan tersebut. Misalnya, adanya permainan tradisional yang memiliki arti setiap permainannya, pohon endemik, omah madep ngidul (rumah menghadap selatan, red) dan lainnya.

“Kunjungan Folktarium ini adalah bagaimana mengenalkan anak-anak akan pentingnya menjaga budaya dan cerita rakyat di sekitar. Kita ajarkan kepada anak untuk merawat kebudayaan dan mewariskan kepada anak cucu melalui folktarium muria,” jelasnya.

Adapun permainan tradisional yang disediakan dalam Folktarium Muria di antaranya gedrik, dinoboy, singkongan, egrang, seniman, dakon, sprento, kelereng, lompat tali dan sebagainya.

Baca juga:  Kasus Kematian Ibu dan Bayi di Kudus Menurun

“Jadi tidak hanya mereka mampu bermain permainan tradisional. Tetapi mereka juga paham arti di balik permainan itu apa,” tandasnya.

Salah satu perwakilan wali kelas MI Khurriyatul Fikri, Sri Mulyati mengatakan tujuan kegiatan ini adalah untuk mengenalkan anak-anak tentang lingkungan dan ragam permainan tradisional di Kampung Budaya Piji Wetan.

“Hari ini kami beserta rombongan anak-anak melaksanakan outing class di KBPW, mengenalkan permainan tradisional dan belajar budaya di jaman dulu,” kata Sri Mulyati ketika diwawancarai.

Aneka permainan tradisional yang dimainkan anak-anak seperti dakon, lombat tali, egrang, egrang batok kelapa, kelereng, dan lainnya. Pihaknya berharap dengan adanya kunjungan ini, dapat lebih mengenalkan kepada anak-anak tentang budaya di Muria, peninggalan leluhur hingga permainan tradisional sehingga tidak punah.

Baca juga:  Pemdes Jepang Bangun Ekonomi melalui Pasar Tokiyo

“Harapan kami anak-anak tetap mengenal lingkungan mereka, budaya di Muria dan permainan tradisional yang ada. Selain itu, kegiatan ini juga sangat bermanfaat untuk menghindarkan mereka dari gadget,” ungkapnya. (cr8/fat)