Guru SMA NU Al-Ma’ruf Kudus: Karakter Remaja Saat Ini Merosot Drastis

KARYA: Guru pengampu Bahasa Jawa dari SMA NU Al-Ma’ruf Kudus, Fifi Lia Rumita saat sedang menunjukkan karyanya, belum lama ini. (ADAM NAUFALDO/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Salah satu guru penggerak yang mengampu mata pelajaran Bahasa Jawa di Kabupaten Kudus saat ini bertekad ingin menerapkan pembelajaran budi pekerti kepada para muridnya. Sebab, guru tersebut menilai karakter remaja saat ini sangat merosot drastis.

Guru pengampu Bahasa Jawa dari SMA NU Al-Ma’ruf Kudus, Fifi Lia Rumita mengungkapkan hal itu tidak dianggap sebagai sebuah keluhan atau hambatan. Akan tetapi, lebih ke tantangan. Jika hal itu dianggap hambatan maka tidak bisa maju. Jika itu tantangan maka harus dapat dilalui.

Baca juga:  SPPT Miliki Fungsi Penting Bagi Wajib Pajak

“Jika dianggap tantangan bagaimana kita menyikapi bahwa hal itu harus dilalui sebagai tantangan kita untuk maju kedepan,” ungkapnya kepada Joglo Jateng, belum lama ini.

Fifi menjelaskan, tantangan menjadi guru di usia muda dan fresh graduate sangat tidak mudah. Biasanya kalau masuk dalam sekolah, murid lebih menghargai guru yang sepuh dibanding dengan yang muda. Maka dirinya berusaha untuk menyakinkan, bahwa guru muda juga memiliki potensi.

“Nah itu bagaimana, saya berusaha menyakinkan bahwa guru muda itu punya potensi untuk memberikan dan mengajarkan ilmu yang baik ke anak sekolah. Meskipun masih muda, saya ingin menerapkan prinsip unggah-ungguh bahasa,” tukasnya.

Baca juga:  Kantah Kudus Edukasi Program Kabupaten Lengkap ke Pemdes

Dirinya mengungkapkan, hampir semua anak di zaman sekarang tak mampu berbahasa dengan baik. Itulah yang menjadi motivasinya agar anak-anak sekolah bisa memahami bahasa krama, tentang budaya, kesenian dan masih banyak lagi.

“Hampir setiap anak di sekolah yang pernah saya temui kesusahan dalam pembelajaran bahasa jawa. Ini adalah tantangan bagi saya sendiri bagaimana bisa mengemas bahasa jawa menjadi pembelajaran yang sangat menyenangkan bagi anak,” tuturnya.

Selain itu, guru disekolah juga harus bergotong-royong dalam menggerakkan pembelajaran budi pekerti kepada para murid di sekolah. “Setiap pembelajaran pasti mempunyai nilai budi pekerti tertentu terlebih untuk mata pelajaran Bahasa Jawa. Menurutku itu menjadi tantangan sendiri,” pungkasnya. (cr12/fat)