Model Realistic Mathematics Education untuk Meningkatkan Hasil Belajar

Oleh: Darminto, S. Pd.
Guru SD N 2 Tumbal, Kec. Comal, Kab. Pemalang

MATEMATIKA sebagai salah satu cabang ilmu eksakta memiliki karakteristik dan mempunyai objek yang bersifat abstrak. Sebagian besar siswa yang menempuh pendidikan formal, baik di sekolah dasar, menengah ataupun lanjutan menganggap matematika adalah pelajaran yang sangat sulit.

Seringkali guru dalam pembelajaran matematika memberikan materi dengan semua objeknya bersifat abstrak. Masih banyak pula guru yang menggunakan model pembelajaran yang bersifat konvensional. Akibatnya, hasil belajar tidak tercapai secara optimal.

Berkaca dari permasalahan di atas, maka model Realistic Mathematics Education (RME) merupakan solusi agar pembelajaran matematika dapat mudah dipahami oleh siswa. RME menurut Ahmad Mustofa (2009) adalah model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan kembali dan merekonstruksi konsep-konsep matematika.

RME sering digunakan sebagai pendekatan untuk meningkatkan mutu pembelajaran matematika. Dengan cara ini, siswa merasa dekat dan tertarik terhadap pelajaran matematika. RME adalah model pembelajaran matematika pada matematika sekolah yang berorientasi pada penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Materi  Bangun  Ruang merupakan bagian dari  aspek  geometri yang menekankan pada kemampuan siswa untuk mengidentifikasi  sifat  dan  unsur  serta menentukan  volume  dalam  pemecahan masalah.  Materi Bangun Ruang yang dipelajari di kelas VI SD semester dua yang dimulai dari Sifat-sifat Bangun Ruang. Kemudian menentukan volume bangun ruang sederhana (kubus dan balok) sampai pada menentukan volume limas dan kerucut. Materi  bangun  ruang  di  kelas  VI  SD difokuskan  kepada  kubus,  balok,  tabung, prisma,  limas,  dan  kerucut.

Implementasi MRE di kelas meliputi tiga fase. Yaitu pengenalan, eksplorasi, dan meringkas. Pada fase pengenalan, guru memperkenalkan masalah–masalah realistik dalam pembelajaran matematika kepada seluruh siswa serta membantu siswa memberi pemahaman masalah. Pada fase ini meninjau ulang semua konsep–konsep yang berlaku sebelumnya. Kemudian mengaitkan masalah yang dikaji saat itu ke pengalaman siswa sebelumnya yang terjadi dalam kehidupan sehari–hari.

Pada fase eksplorasi, siswa dianjurkan bekerja secara individual, berpasangan, atau dalam kelompok kecil. Pada saat siswa bekerja, mereka mencoba membuat model situasi masalah, berbagi pengalaman atau ide, mendiskusikan pola yang dibentuk saat itu, serta berupaya membuat dugaan.

Selanjutnya dikembangkan strategi-strategi pemecahan masalah yang mungkin dilakukan berdasarkan pada pengetahuan informal atau formal yang dimiliki siswa. Disini guru berupaya meyakinkan siswa dengan cara memberi pengertian sambil berjalan mengelilingi siswa, melakukan pemeriksaan terhadap pekerjaan siswa. Kemudian memberi motivasi kepada siswa untuk giat belajar.

Dalam hal ini peran guru adalah memberikan bantuan seperlunya kepada siswa yang memerlukan bantuan. Bagi siswa yang berkemampuan tinggi dapat diberikan pekerjaan yang lebih menantang yang berkaitan dengan masalah.

Pada fase meringkas, guru dapat mengawali pekerjaan lanjutan setelah siswa menunjukkan kemajuan dalam pemecahan masalah. Sebelumya mendiskusikan pemecahan-pemecahan dengan berbagai strategi yang mereka lakukan.  Dalam  hal  ini  guru membantu siswa  meningkatkan  kinerja  matematika secara  lebih  efisien  dan  efektif.

Peranan siswa dalam fase ini sangat penting. Seperti mengajukan dugaan, mengajukan pertanyaan kepada yang lain, bernegosiasi, memberi alternatif-alternatif pemecahan masalah. Selanjutnya memberikan alasan, memperbaiki strategi dari dugaan mereka, dan membuat keterkaitan.

Sebagai  hasil  dari  diskusi, siswa  diharapkan  menemukan  konsep-konsep  utama  pengetahuan matematika  formal  sesuai  dengan  tujuan materi.  Dalam  fase  ini  guru  juga  dapat membuat  keputusan  pengajaran  yang memungkinkan  semua  siswa  dapat mengaplikasikan konsep. Sehingga membuat siswa lebih mudah memahami materi dan lebih termotivasi untuk belajar matematika. Penggunaan model RME diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran matematika. Khususnya pada materi Bangun Ruang. (*)