Pengelolaan Wilayah Pesisir Perlu Sinergitas Antarpemangku Kepentingan

DUSKUSI: Para peserta seminar online “Sinergritas Pemangku Kepentingan dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu" yang digelar oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Jawa Tengah, Rabu (6/12/23). (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Sebanyak sekitar 628 peserta mengikuti seminar online bertajuk “Sinergritas Pemangku Kepentingan dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu” yang digelar oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Jawa Tengah, Rabu (6/12/23). Seminar ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang kebijakan dan strategi pengelolaan wilayah pesisir.

Sejumlah narasumber yang ahli pada bidang pengelolaan wilayah pesisir turut meramaikan seminar tersebut. Di antaranya Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintahan Daerah II Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kemendagri RI, Suprayitno, kemudian Peneliti Center of Integrated Coastal Zone Management Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, Wisnu Pradoto dan Kepala Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah BAPPEDA Provinsi Jawa Tengah, Nomastuti Junita Dewi.

Selamat Idulfitri 2024

Kepala BPSDMD Jateng, Sadimin mengatakan, selain untuk memberikan pemahaman tentang kebijakan dan strategi pengelolaan wilayah pesisir, seminar ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan peran serta pemangku kepentingan. Yakni dalam upaya meningkatkan ekonomi masyarakat dan kemanfaatan sumberdaya wilayah pesisir pantai, serta membangun sinergitas dan kolaborasi antar lembaga dan antar daerah.

Baca juga:  Tak Bergantung Beras, Pemprov Jateng Dorong Diversifikasi Pangan

“Untuk melakukan pengelolaan wilayah pesisir pantai menjadi lebih baik, dibutuhkan sebuah pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu,” katanya.

Menurutnya, kondisi wilayah pesisir pantai merupakan bagian yang kaya akan potensi sumber daya alam yaitu potensi pesisir kelautan, perikanan dan potensi wisata bahari. Masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir pantai menggantungkan hidupnya dari pemanfaatan sumber daya alam yang terdapat di sekitar pesisir pantai.

PAPARAN: Sekda Jateng Sumarno saat memberikan sambutan seminar online “Sinergritas Pemangku Kepentingan dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu” yang digelar oleh BPSDMD Jateng, Rabu (6/12/23). (LU’LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

“Sentuhan pengetahuan akan pemanfaatan pengembangan sumber daya alam pesisir ini masih sangat minim, yang pada akhirnya potensi yang ada tidak mampu meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir pantai. Bahkan sering menimbulkan permasalahan kerusakan dan gangguan lingkungan di sekitar pesisir pantai,” ungkapnya.

Baca juga:  Harga Sembako Masih Tinggi, DPRD Kota Semarang Minta Pemerintah Terus Lakukan Operasi Pasar

Sementara itu, Sekda Jateng, Sumarno mengaku jika berbicara masalah pesisir ada dua pandangan yakni potensi dan masalah yang ada di wilayah tersebut. Menurutnya, dari sisi potensi pesisir merupakan sumber daya yang cukup besar. Mulai dari masalah perikanan, masalah tambak, hingga masalah garam.

Berbicara perihal garam, lanjutnya, ini menjadi hal yang memprihatinkan bagi Indonesia. Sebab hingha saat ini Indonesia masih Impor garam padahal lautannya begitu besar. “Terus juga produk-produk masalah perikanan, bagaimana kita budidaya perikanan di kawasan pesisir ini juga belum maksimal,” ujarnya.

Dan yang jauh lebih perlu diskusikan bersama, lanjut Sumarno, bahwa di kawasan pesisir ini juga mengalami masalah-masalah yang harus segera diselesaikan agar tidak semakin lebih parah.

Sumarno merinci beberapa masalah, antara lain adalah terkait pencemaran dan abrasi/erosi di kawasan pesisir apalagi pesisir di Pantai Utara (Pantura) Jawa serta masalah tata ruang di wilayah atas juga masalah galian C. Menurutnya harus ada kolaborasi bersama berbagai stakeholder, karena abrasi atau erosi yang terjadi ini bermula dari hulunya.

Baca juga:  DPRD Kota Semarang Harap Masyarakat Kurangi Sampah sampai 30 Persen

“Karena apa problem kerusakan lingkungan yang ada di hulu itu tidak pernah dirasakan, akibat dari kerusakan lingkungan yang terjadi, yang merasakan adalah yang ada di sisi bawah di hilir. Inilah bentuk kita berkolaborasi, karena harus mengingatkan yang ada di sisinya bahwa kerusakan yang ada di sisi atas itu berdampak ke sisi hilir yang dampaknya luar biasa,” bebernya.

Selain itu, di pesisir utara juga menghadapi masalah penurunan permukaan tanah. Ini juga PR yang harus dipikirkan karena salah satu penyebabnya adalah masifnya perindustrian di wilayah tersebut.

Lebih lanjut, pihaknya mengaku tak bisa langsung menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Oleh karena itu, Sumarno mengajak para peserta yang mengikuti kegiatan ini untuk setidaknya mengurangi kerusakan lingkungan di wilayah pesisir tersebut. (luk/gih)