Komunitas Belajar Merupakan Solusi dalam Implementasi Kurikulum Merdeka

Oleh: Hastutik, SPd., M.Pd
Kepala Sekolah SD N Jatimulyo, Kec. Bonang, Kab. Demak

KOMUNITAS Belajar (Kombel) merupakan wadah sekelompok guru, tenaga kependidikan, dan pendidik lainnya yang memiliki semangat dan kepedulian yang sama terhadap transformasi pembelajaran. Yakni melalui interaksi secara rutin dalam wadah di mana mereka berpartisipasi aktif.

Selamat Idulfitri 2024

Komunitas belajar sangat mendukung implementasi Kurikulum Merdeka. Komunitas belajar di tingkat satuan pendidikan sangatlah membantu sekolah. Khususnya bagi tenaga pendidik dalam berkolaborasi menyelesaikan permasalahan pembelajaran.

Kolaborasi antaranggota (guru) dalam komunitas belajar dapat menambah pengalaman, pengetahuan, serta solusi dari permasalahan pembelajaran. Dalam komunitas belajar, anggota (guru) bisa merefleksi kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang sudah dilaksanakan.  Sementara anggota yang lain memberikan tanggapan, masukan, saran, serta solusi dengan tujuan untuk penyempurnaan kegiatan pembelajaran. Terlebih dalam Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM).

Komunitas belajar memfasilitasi refleksi teman sejawat dalam IKM. Komunitas belajar merupakan wadah yang mampu memberi solusi bagi anggota yang belum bisa secara mandiri mengembangkan perangkat ajar (prota, promes, pemetaan materi, menyusun modul ajar, menyusun modul projek), menyusun perangkat evaluasi, mengembangkan strategi, dan metode pembelajaran berbasis digital. Dalam kegiatan komunitas belajar, selain di tingkat satuan pendidikan, bisa juga berkolaborasi dengan komunitas belajar lainnya.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Komunitas belajar satuan pendidikan dapat berkolaborasi dengan komunitas belajar Sekolah Penggerak, ataupun komunitas belajar lainnya. Sepanjang kolaborasi dapat meningkatkan pemahaman, menambah wawasan, memecahkan masalah pembelajaran, dan mendapatkan solusi dari permasalahan pembelajaran yang dialami anggota komunitas. Kolaborasi dengan bisa dilaksanakan secara daring maupun luring.

Komunitas belajar secara daring dapat dilakukan melalui Zoom Meeting maupun Google Meeting. Kelemahannya secara daring yang sering dialami adalah keterbatasan sinyal, paket internet, dan pemahaman kurang jelas. Terutama dalam pemberian. Contoh hanya berupa foto atau format atau dalam bentuk soft file.

Lain lagi jika kolaborasi pelaksanaan komunitas belajar dilakukan secara luring, banyak kelebihannya. Antara lain penjelasan materi jelas, pertanyaan bisa dismpaikan secara langsung dengan narasumber. Sehingga jika ada ketidakjelasan materi bisa digunakan contoh yang konkret.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Misalnya dalam menyusun modul ajar. Bagi pemula, untuk menyusun modul ajar memerlukan pemahaman dulu dari istilah dasar yang perlu dikuasai. Seperti ‘capaian pembelajaran’, ‘alur tujuan pembelajaran’, ‘tujuan pembelajaran’, ‘pertanyaan pemantik’, ‘pemahaman bermakna’, hingga ‘asesmen’.

Komunitas belajar dapat memfasilitasi belajar bersama. Dalam penyusunan asesmen juga memerlukan keterampilan dan pengetahuan. Terlebih secara rinci ada asesmen diagnostik, asesmen awal, asesmen formatif, dan asesmen sumatif juga perlu dikuasai. Kemandirian dalam menyusun perangkat ajar untuk implementasi kurikulum Merdeka sangatlah memerlukan pendampingan dengan memanfaatkan komunitas belajar.

Komunitas belajar secara luring sangat menguntungkan manakala praktik pembelajaran diferensiasi di dalam kelas anggota bisa melihat dan mengamati secara langsung proses pembelajaran, strategi, dan metode yang digunakan. Kemudian mencermati bagaimana dan di mana spesifik dari diferensiasinya.  Pembelajaran diferensiasi bagi pemula mungkin masih sama pembelajaran sebelumnya, terutama dalam memperlakukan terhadap siswa.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Mengubah maindset guru tentang pembelajaran diferensiasi agak sulit. Guru senantiasa menggunakan strategi pembelajaran yang sama yakni pembelajaran yang berpusat pada guru. Dalam Kurikulum Merdeka, kolaborasi dan asesmen diagnostik yang merupakan dasar memberi perlakuan atau melayani siswa secara personal. Yakni melalui pembelajaran diferensiasi serta pembelajaran berpusat pada siswa. Adanya istilah fase A, B, dan C; ‘guru sebagai fasilitator bukan lagi sebagai nara sumber satu-satunya’ merupakan kata kunci yang perlu dipahami oleh guru.

Komunitas belajar memberikan pemahaman dan berbagi praktik. Baik dengan menampung maupun memberi solusi dengan sejuta permasalahan yang dihadapi anggota. Komunitas belajar perlu dibentuk dan dimanfaatkan pendidik dan tenaga kependidikan secara maksimal. (*)