Figur  

Tinggalkan Usaha Demi Asuh Putra ABK

Hesti bersama ketiga putranya. (UMI ZAKIATUN NAFIS/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Kehidupan yang penuh cobaan telah mengajarkan Hesti Andini (40) arti kekuatan dan kesabaran. Asam pahit, bahkan cacian dari orang sering ia telan. Mendapatkan perlakuan seperti itu mengajarkannya berpegang teguh pada pendirian.

Meski usaha miliknya laris manis, Hesti rela meninggalkan cathering dan toko bajunya demi membesarkan ketiga anaknya dengan rasa cinta dan sayang. Mendidik dengan kesabaran adalah bahasa jiwa dari seorang Hesti.

Mantan penyiar radio ini dikaruniai 3 anak dengan 2 duantaranya berkebutuhan khusus. Istri dari Sumaryani (55) ini, memiliki tiga anak. Krisna (17), Keyla (13) dan Kenandra Rasyid Rabaswara (8).

Menurut pemaparan Hesti saat ditemui tim Joglo Jateng dikediamannya, ia nampak bercanda ria dengan putra sulungnya, Rahadyan Ghifari Krisna Waskitha. Sembari mempersilakan, Hesti menceritakan kondisi ketiga anaknya.

Krisna yang kini bersekolah di bangku SMK kelas IX menderita syndrome Asperger. Gangguan perkembangan yang memengaruhi kemampuan bersosialisasi dan berkomunikasi secara efektif.

“Saat anak pertama ini lahir saya tidak langsung tahu bahwa dia tergolong anak istimewa. Karena secara fisik dia normal,” ungkap Hesti, yang kini menjadi Ketua Paguyuban Wali Murid SLB Cendono.

Lambat laun seiring perkembangan anak pertamanya itu, Hesti merasakan Krisna sebagai anak yang berbeda. Cenderung hiperaktif dan mengalami speech delay.

“Dulu saya ga terlalu memerhatikan anak saya ini. Yang penting disekolahkan seperti biasanya. Puncaknya ketika saya tahu bahwa Krisna menderita Asperger adalah ketika dia menjadi korban perundungan teman-temannya,” lanjut Hesti sembari mencoba mengingat momen traumanya itu.

Baca juga:  Dukungan Orang Tua Jadi Kunci Sukses Azandra Lintang Raih Gelar Runner-up Puteri Ekowisata Jateng 2023

Pada masa SMP/MTs itu, menjadi masa perjuangan Hesti menyelamatkan Krisna dari hal terburuknya. Mencari keadilan atas kasusnya, menyembuhkan trauma anak pertamanya. Hingga bangkit kembali mengikuti pendidikan di jenjang SMA/SMK.

“Usai perjalanan kasus Krisna, akhirnya ia dipindahkan ke sekolah lain. Dengan perlahan keadaannya dan keadaan saya membaik. Karena saya juga sempat drop juga,” ungkapnya.

Pada masa Covid-19 lalu, merupakan momen damai dan lega bagi Hesti. Ia menyadari bahwa putra sulungnya itu memiliki kecerdasan di bidang akademik dan kedisiplinan. Dari hal itulah, ia ingin fokus menuntun Krisna dan menjadikan dia sebagai anak yang cerdas dan berbakat seperti anak lainnya.

“Sebagai ibu, pasti kepengen semua anaknya bahagia, senang dan pintar. Saya juga begitu, pengen semua anak yang saya lahirkan dan besarkan ini bisa hidup dengan nyaman dan bahagia,” ujarnya.

Hesti juga memiliki anak perempuan, namanya Rara Kayla Azka Laksmi. Gadis cantik berusia 13 tahun yang turut menyuguhkan minuman saat kunjungan Joglo Jateng di rumah Hesti. Ia menjelaskan, Kayla anak normal. Berbeda dengan kakak dan adiknya.

Akan tetapi dari hal inilah, membuat Hesti cukup sedih. Beberapa kali Kayla harus ikut memahami kebutuhan kakak dan adiknya.

“Dia anak perempuan yang kuat dan sabar. Ketika ibunya minta tolong dia selalu sigap. Ketika ibunya melarang makan makanan yang tidak diperkenankan kepada adiknya ia pun nurut,” ujar Hesti saat memperkenalkan Kayla dengan kebanggaanya.

Baca juga:  Terinspirasi BTS, Remaja Bandung Ini Bercita-cita Menjadi Dancer Andal

Usai beberapa tahun berselang kelahiran putra ketiganya, Kenandra Rasyid Rabaswara. Hesti memutuskan memulai usaha fashion dengan menjual pakaian dan menjual makanan dengan sistem cathering.

Usahanya laris manis. Bahkan setiap hari ia selalu menerima pesanan. Namun, usaha yang dirintisnya ini harus disudahi karena kondisi Kenandra yang mengidap Autisme.

“Saya tidak ingin. Kasus anak sulung saya tidak terjadi kepada anak bungsu saya, Ken. Maka saya mencoba mengasuh Ken semaksimal mungkin,” ungkap Hesti.

Kondisi Ken, diungkap Hesti, tidak seperti anak sulungnya. Kenandra, memiliki fokus yang sangat minim. Bahkan dahulu, putra bungsunya itu hanya bisa fokus selama 8 detik. Selebihnya sikap hiperaktifnya selalu ditunjukkan.

“Dari keadaan inilah, saya tidak bisa merangkap berjualan. Fokusnya ingin kepada anak saya. Siar kedepannya tidak ada rasa penyesalan terhadap apa yang tidak saya inginkan,” ungkapnya lebih lanjut.

Di sisi lain, Hesti juga harus berperang batin dengan orang-orang, teman bahkan keluarga yang sering memberikan kalimat yang membuatnya bersedih. Seringkali Hesti merasa dipandang sebelah mata orang bahkan keluarga. Ia juga merasa beberapa kali ingin menyerah bahkan menangis.

“Orang-orang ya begitu memang dengan cemoohan mereka yang menyakiti hati. Bahkan, ada yang mencegah saya untuk menyekolahkan Ken di SLB. Sering ada di momen pengen nyerah dan marah. Tetapi kembali lagi bahwa anak adalah amanah,” tandasnya.

Menurut Hesti, Tuhan tidak pernah menciptakan produk gagal. Yang ada adalah orang tua yang bingung. Ia tetap konsisten mengasuh ketiga anaknya dengan sepenuh hati. Ia percaya Tuhan nantinya akan menggantikan sesuatu yang lebih.

Baca juga:  Healing dengan Baca Buku

Disamping itu, Hesti selalu mencoba bersabar dan mencari ilmu tentang cara terbaik mengasuh anak berkebutuhan khusus. Ia juga sering mengikuti kelas parenting dari beberapa pemateri.

“Lambat laun saya mulai dengan pembiasan yang bagus. Anak-anak pun saya sesuaikan pola hidupnya sesuai dengan aturan anak autis. Mulai dari menghindari minuman dan makanan bertepung dan pola tidur,” sambungnya.

Hesti berusaha agar ketiga anaknya saling mengerti dan menghargai satu sama lain. Ia ingin anaknya memahami bahwa mereka bertiga adalah saudara dengan kasih sayang yang sama dari orang tuanya. Tak hanya itu, sikap adat Jawa berupa unggah-ungguh juga selalu ditekankan Hesti kepada tiga anaknya.

“Saya suka seorang ibu yang bisa menjadi teman untuk anaknya. Makanya saya mencoba begitu. Dan sulit ternyata untuk saya bisa masuk ke dunianya,” ungkap dia.

Hesti mengungkapkan harapannya, bahwa ia ingin ketiga anaknya bisa mandiri dan bisa diterima di tempat mereka tinggal. Tidak muluk-muluk harus bisa memberi manfaat kepada orang lain. Yang penting bermanfaat untuk dirinya.

“Kalau punya anak berkebutuhan khusus ibunya harus selalu menggali nilai positifnya. Terima apa adanya anak kita. Jangan bandingkan anak kita dengan yang lain. Karena masing-masing anak pasti punya kelebihan,” pungkas Hesti. (cr8/fat)