Harga Rumah Subsidi Naik, Jadi 166 Juta

SEDERHANA: Ilustrasi pembangunan rumah subsidi. (ANTARA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Harga rumah bersubsidi tahun 2024 mengalami kenaikan menjadi Rp 166 juta. Padahal sebelumnya, tahun 2023 harganya Rp 162 juta.

Ketua DPW Asosiasi Perumahan Sederhana Nasional (Apernas) Jateng Eko Purwanto mengatakan, kenaikan Rp 4 juta ini tentu menjadi angin segar bagi para pengembang. Penyesuaian batasan harga maksimal rumah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) itu telah diatur pemerintah. Yakni merujuk pada Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 689/KPTS/M/2023.

Kebijakan tersebut mengatur tentang batasan luas tanah, luas lantai, dan batasan harga jual rumah umum, tapak dalam pelaksanaan kredit atau pembiayaan perumahan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan, serta besaran subsidi bantuan uang muka perumahan.

Baca juga:  Sekda Jateng: Harkitnas Momentum Peningkatan Teknologi Informasi

“Bagi pengembang ini menjadi kabar baik, karena ada stimulus dari pemerintah. Ada kenaikan Rp 4 juta menjadi Rp 166 juta. Setidaknya itu menjadi penyemangat dari kami bahwa ada kenaikan harga rumah bersubsidi,” ungkap Eko saat dikonfirmasi, Senin (8/1/24).

Meski harga bertambah, pihaknya tetap optimis dapat memasarkan rumah subsidi sesuai dengan target yang ditetapkan. Yakni 166 ribu unit dan dipastikan akan habis di pertengahan tahun.

Menurutnya, pada 2023 target penjualan rumah subsidi sebanyak 220 ribu unit. Semuanya habis terjual. Menariknya, mayoritas pembeli adalah generasi milenial dengan rentang usia 25-35 tahun. Kata dia, fenomena ini menggambarkan anak muda di Jateng mulai melek akan pentingnya rumah hunian.

Baca juga:  Bulog Semarang Layani Penyediaan Bapok Murah melalui RPK Semakin Mesra

“Pembelian rumah di tahun 2023 itu kebanyakan memang usia 25-35 tahun, usia muda mereka sudah sadar pentingnya akan rumah tinggal. Di luar itu juga ada rumah tangga muda yang mereka sudah butuh tempat tinggal juga, memang kaum milenilal 2023 mendominasi,” akunya.

Lebih lanjut, Eko mengaku kebanyakan kaum milenial tersebut memilih rumah di daerah sekitaran Kota Semarang Barat, lalu di Boja Kabupaten Kendal, daerah Rowosari di Semarang Timur, dan Ungaran Kabupaten Semarang. Sementara rumah subsidi kata dia, banyak dibangun di daerah Kabupaten Semarang, Pekalongan, Kendal, dan Solo Raya.

Baca juga:  Pj Gubernur Kawal Kabupaten/Kota yang belum Tuntaskan Anggaran Pilkada

“Sekitar satu sampai dua tahun ini, empat daerah itu mendominasi pembangunan rumah subsidi. Karena akan ada jalan tol Yogyakarta Semarang, kemudian ada proyek strategis nasional (PSN) seperti KITB, lalu Semarang, Kendal banyak kawasan industri,” katanya. (luk/gih)