Kuota Pembuangan Sampah ke TPST Piyungan Disunat 40 Ton

MENGOLAH: Petugas sudah mulai mengolah sampah menggunakan mesin di TPST Tamanmartani Kalasan Sleman, belum lama ini. (ADIT BAMBANG SETYAWAN/JOGLO JOGJA)

SLEMAN, Joglo Jogja – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman menyebut kuota pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan dari Kabupaten Sleman dikurangi sebesar 40 ton. Pasalnya, pihaknya hanya diberi kuota sebanyak 110 ton per hari.

Kepala DLH Sleman Epiphana Kristyani mengatakan, pihaknya kini menyiapkan berbagai upaya pengolahan sampah. Hal itu dilakukan sebagai sikap dikuranginya kuota pembuangan sampah dari Sleman ke TPST Piyungan.

Epi menyebut, pada Tahun 2023 kabupaten Sleman mendapat jatah pembuangan sampah sebesar 150 ton per hari ke Piyungan. Namun, mulai awal tahun ini dikurangi sebanyak 40 ton per hari.

Baca juga:  Gus Yahya Sebut Kader NU yang Tertinggal sudah Langka

“Pengurangan ke TPST Piyungan dimulai sejak awal tahun ini. Dalam rapat bersama Pemda DIY diputuskan Sleman bisa masuk (membuang sampah, Red) ke Piyungan 110 ton per hari,” terangnya, Selasa (9/1/24).

Terkait dengan berkurangnya jatah pembuangan itu, dia mengaku, akan memaksimalkan pengolahan sampah di TPST Tamanmartani. Menurutnya, selama masa uji coba sejak awal tahun lalu, TPST yang berada di Kapanewon Kalasan itu mampu mengolah sampah hingga 20 ton per hari.

Lebih lanjut, pihaknya juga meminta masyarakat agar mau mengolah sampahnya secara mandiri. Khususnya, untuk sampah organik berupa sisa-sisa makanan yang berpotensi menimbulkan bau tidak sedap.

Baca juga:  Ratusan Masyarakat Serbu Pasar Murah

Epiphana menerangkan, upaya yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengurangi sampah sisa makanan adalah dengan menyesuaikan porsi dalam satu rumah. Sehingga kemudian tidak ada makanan yang terbuang.

Dia menyebut, program itu sudah cukup maksimal di kalurahan Sardonoharjo, Ngaglik. Di desa itu, masyarakat mendapat pendampingan dari mahasiswa untuk menyesuaikan porsi dan kecukupan gizi dari makanan pada tiap keluarga.

“Sehingga sisa makananya angat minim. Karena kalau makanan jadi sisa kan mubazir juga, selain itu juga akan menimbulkan bau,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY Kusno Wibowo menyampaikan, per bulan Januari masing-masing daerah yang biasa membuang ke TPST Piyungan dibatasi 370 ton per hari. Jumlah itu berkurang dari bulan Desember sebanyak 450 ton per hari dengan skema tiga hari kirim satu hari libur.

Baca juga:  DP3AP2KB Sleman Berkomitmen Penuhi Hak Anak

Pasalnya, dengan skema tersebut, kondisi TPST Piyungan khususnya pada zona transisi dua diperhitungkan hanya mampu bertahan hingga akhir Maret 2024. Sehingga, wilayah Kartamantul pun diminta segera merealisasikan percepatan program desentralisasi mandiri sampah.

“Sesuai dengan perhitungan kami,Piyungan tinggal mampu bertahan di akhir Maret 2024. Artinya sesuai kebijakan Pemda, pengolahan sampah desentralisasi ke kabupaten/kota harus dipercepat,” tegasnya. (bam/all)