Dokter: Vape dengan Rokok Konvensional Sama-sama Berbahaya

Pengurus PDPI Jawa Tengah, dr Prihatin Iman Nugroho SpP MKes,
Pengurus PDPI Jawa Tengah, dr Prihatin Iman Nugroho SpP MKes, (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Pengurus Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Jawa Tengah dr Prihatin Iman Nugroho SpP MKes mengingatkan kepada para pengguna vape dan perokok konvensional untuk menghentikan kebiasaan mereka. Sebab keduanya sama-sama dapat membahayakan kesehatan.

“Dari salah satu penelitian yang dilakukan itu menyampaikan bahwa vape dengan rokok konvensional sama-sama berbahaya. Selain itu, juga tidak bisa keduanya menjadi substitusi yang mana menjadi alternatif kebiasaan yang dilakukan,” jelasnya saat dihubungi Joglo Jateng, belum lama ini.

Prihatin yang juga menjadi Sekretaris IDI Cabang Semarang mengimbau kepada anak-anak muda untuk tidak mencoba menggunakan vape atau rokok elektrik. Dirinya mengamati, ada pengaruh lingkungan yang negatif, sehingga menyebabkan orang sulit berhenti merokok.

Baca juga:  Tingkatkan Mitigasi Perubahan Iklim melalui Rakerkes

“Ketika lingkungan itu memiliki kebiasaan yang sama, hal itu yang menyebabkan susah. Jadi kembali lagi komitmen untuk tidak masuk ke area tersebut (pengguna vape, Red.) dengan menjaga pola hidup sehat,” pungkasnya.

Sementara itu, salah satu warga asli Ngaliyan, Adi (27) mengaku sudah memulai menggunakan vape pada tahun 2018. Namun, setelah itu ia sempat berhenti dan menggunakannya kembali di tahun 2020.

“Awalnya coba-coba karena ikut teman-teman yang lain. Sukanya sih karena vape itu asapnya lebih banyak, dan semriwing (sejuk, Red.) di tenggorakan,” ungkapnya.

Baca juga:  PPI 2024 Jadi Gudang Inovasi Jawa Tengah

Hal yang ia suka dari penggunaan vape adalah pengeluarannya lebih murah dibandingkan membeli rokok per bungkus. Terlebih lagi, cairan vape juga memiliki varian rasa yang bermacam-macam.

Di sisi lain, salah satu warga asli Kecamatan Semarang Tengah, Dedy (21) menyampaikan bahwa dirinya lebih nyaman menjadi perokok konvensional dibanding menggunakan vape. Sebab, menurutnya rasa vape tidak seenak seperti rokok pada umumnya.

“Pernah nyoba vape tapi biasa aja, rasanya enak tapi kurang buat perokok sejati. Rokok itu bisa habis satu bungkus sehari,” ujarnya.

Baca juga:  UIN Walisongo Jalin Kerja Sama dengan JNU Tiongkok

Sejak duduk dibangku SMA, kata Dedy, dirinya sudah berani merokok. Lantaran berada di lingkup yang mana teman-teman di kelasnya juga perokok.

“Awalnya coba-coba terus ketagihan. Saat ini belum berhenti. Karena menurutku rileks aja kalau udah merokok mau itu setelah makan, selesai kerja, lagi stress, bahkan lagi gabut juga merokok,” tuturnya. (cr7/mg4)