Siswa & Guru SMA N 2 Kudus Tanam 200 Bibit Pohon untuk Cegah Banjir

PEDULI: Salah satu guru SMA N 2 Kudus saat melakukan penanaman pohon di Hutan Wonocoso, Kudus, belum lama ini. (UMI ZAKIATUN NAFIS/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng –  Puluhan siswa bersama guru SMA N 2 Kudus berbondong-bondong menanam 200 bibit pohon di hutan Wonocoso, belum lama ini. Konservasi ini menjadi perhatian dengan adanya fenomena banjir jelang musim penghujan.

Kepala SMA N 2 Kudus, Nur Afifudin menyebutkan, program tahunan ini menjadi alternatif peningkatan kepedulian siswa terhadap lingkungan. Sasarannya, daerah rawan banjir seperti Rahtawu, Menawan, Wonosoco dan Terban.

“Kami selalu siapkan siswa dari OSIS, MPK dan Pramuka untuk melakukan konservasi. Sementara lokasinya kami selalu konsultasi dengan PKPLH,” jelasnya saat ditemui Joglo Jateng.

Adapun beberapa jenis pohon yang ditanam yaitu pohon jeruk, pohon juwet, dan pohon mangga. Sebab, kata Afif, di Wonosoco masih banyak lokasi hutan gundul mencapai 300 hektare.

Baca juga:  Berikan Kemudahan Pelayanan Melalui Lansus Sutilang

“Kami awalnya berencana satu tahap. Tetapi  kami tergerak untuk membuat chapter 2. Karena ternyata masih banyak lahan gundul, anak anak pramuka,” ucapnya.

Melalui program ini, Afif berharap, para siswa bisa memiliki jiwa peduli merawat dan menjaga keselamatan lingkungan. Menurutnya, anak-anak tidak hanya belajar teori di sekolah, tetapi bisa praktik langsung di lapangan.

“Mereka bisa dapat ilmu di sana. Selain pengetahuan juga bisa membentuk karakter peduli cinta lingkungan sesama,” ucap Arif.

Hal ini, lanjut dia, sejalan dengan misi kurikulum merdeka yaitu berbakti lingkungan. Siswa SMA N 2 Kudus juga diberikan materi penyuluhan cara menanam pohon. Termasuk penghalian tanah yang harus dilakukan seminggu sebelum penanaman.

Baca juga:  Museum Kretek Ramaikan Pameran Museum di Monumen Pers Nasional

“Anak-anak sekolah akan lebih paham jika diberikan materi dan juga praktik. Maka, kegiatan konservasi ini juga penting dilakukan di tingkat SMA sederajat. Jangan sampai anak-anak memiliki pola pikir yang keliru terhadap cara menjaga lingkungan,” tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Waka Humas SMA N 2 Kudus, Saeful menerangkan, praktik peduli lingkungan sudah dilakukan juga di sekolah. Misalnya dengan adanya bank sampah menghasilkan kompos dan pupuk yang dikelola langsung siswa.

“Kami juga berusaha menambah tanaman di lingkungan sekolah. Tentunya dengan masing-masing penamaan di setiap pohonnya,” terangnya.

Baca juga:  BUMDes Utama Karya Rahtawu Masih Terkendala Pemahaman

Pihaknya berencana, edukasi nama pohon busa dilakukan secara digital. Artinya, lanjut dia, para siswa bisa mencari nama sekaligus definisi bahkan penjelasan audio visual tentang pohon tersebut melalui sistem barcode.

“Intinya praktik baik ini disesuaikan juga dengan dasa darma yang kedua yaitu cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Anak-anak tidak hanya berteori tetapi terjun langsung melakukan pencegahan kerusakan lingkungan,” pungkasnya. (cr8/fat)