Disporapar Jateng Fokus Garap Sport Tourism

Kepala Disporapar Jateng, Agung Hariyadi
Kepala Disporapar Jateng, Agung Hariyadi. (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah fokus garap sport tourism. Targetnya pada tahun 2024, sebanyak 60 juta wisatawan kunjungi Jateng.

Kepala Disporapar Jateng Agung Hariyadi mengatakan, pihaknya bakal membranding Jawa Tengah sebagai tujuan sport tourism. Sebab pada tahun ini program Disporapar Jateng 50 persen bakal dialokasikan untuk promosi. Terlebih wisatawan sekarang tak hanya berkunjunga ke daya tarik wisata (DTW). Namun juga ke event-event atau festival.

“Karena wisatawan tidak mesti kunjungan ke daya tarik wisata tapi juga ke event. Sport tourism itu juga menjadi target kunjungan wisatawan. sehingga kita berani mentarget 60 juta,” ungkap Agung, belum lama ini.

Baca juga:  Punya Kursi Terbanyak di Jateng, PDIP Bisa Maju Pilkada tanpa Koalisi

Provinsi Jawa Tengah sendiri sudah mempunyai beberapa sport tourism. Antara lain, Borobudur Marathon (Bormar), Tour de Borobudur, Mesastila, Duathlon, dan Paralayang. Oleh karena itu, Agung berencana akan menambah beberapa varian dan jenis sport tourism yang baru nantinya.

“Kita mau tambah lagi varian yang lain. ada yang e-sport, lalu ada olahraga esktrem seperti skateboard itu juga akan kita garap,” tegasnya.

Lebih lanjut, Agung menyebut adanya sport tourism ini berdampak positif sampai ke lini terendah masyarakat, yakni warga sekitar. Menurutnya kontribusi dalam hal olahraga dinilai punya banyak peluang. Tidak sekadar menghadirkan prestasi, tapi juga memiliki kontribusi dari sisi ekonominya.

Baca juga:  Mbak Ita Paparkan Visi Misi di DPD PKS

“Olahraga ini bukan hanya sekadar prestasi. Tapi juga menjadi kontribusi dari sisi ekonominya. Kemasannya menjadi DTW sebagai suatu pertunjukan untuk jadi atraksi wisata,” akunya.

Menurutnya, sekarang ini masyarakat tidak hanya ingin menyaksikan. Tapi juga ingin berpartisipasi. Dari sport tourism yang mengangkat olahraga ini mereka bisa terlibat secara langsung.

Agung mencontohkan kegiatan Bormar. Ketika salah satu atlet lari ikut bertanding, mereka akan mengajak istri, anak, juga keluarganya. Tentu hal ini akan berdampak pada sisi ekonomi masyarakat sekitar.

“Ya itu pertimbangan kita. Bormar kemarin semua hunian bahkan sampai ke homestay di Magelang full booking. Dari sini ada roda ekonomi, inilah yang menjadi target kenapa kita mengangkat sport tourisme karena dampak peningkatan ekonominya sangat luar biasa,” bebernya.

Baca juga:  Iswar Kembalikan Formulir Pendaftaran Calon Wali Kota ke DPC PSI

Contoh lain, kata Agung, event Paralayang di Gunung Gajah, Kabupaten Semarang. Adanya sport tourism tersebut bisa menghadirkan desa wisata. Masyarakat menyulap rumah mereka untuk dijadikan homestay. Kemudian makanan lokal di sana juga ikut terekspos.

“Kalau spot alam digunakan untuk olahraga, nanti pemberdayaan masyarakat pun maju. Karena wisatawan akan kumpul di situ, mereka butuh sarapan, penginapan dan lain-lain. akhirnya tumbuh ekonomi desa. Inilah konsep sport tourism, dengan olahraga bisa dijual jadi destinasi wisata berbasis olahraga,” pungkasnya. (luk/gih)