MAN 5 Sleman Berikan Keterampilan Siswa tentang PPGD

FOKUS: Beberapa siswa yang tergabung dalam PMR MAN 5 Sleman saat mengikuti pelatihan kegawatdaruratan, belum lama ini. (DOK.PRIBADI/JOGLO JOGJA)

GAWAT darurat merupakan suatu kejadian yang terjadi secara mendadak, sehingga mengakibatkan seseorang memerlukan penanganan dan pertolongan secara cepat dan tepat. Pengetahuan dan keterampilan melakukan pertolongan pertama dibutuhkan oleh siapa saja.

Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) memerlukan bantuan dan penanganan awal yang bisa dilakukan oleh orang awam, termasuk siswa-siswi maupun guru di sekolah. Untuk mendukung itu, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 5 Sleman mengambil langkah proaktif dalam meningkatkan kesiapsiagaan remaja, dengan menyelenggarakan Pelatihan Kegawatdaruratan.

Dengan melibatkan 20 Anggota Palang Merah Remaja (PMR). Kegiatan tersebut melibatkan pemateri dari mahasiswa Program Studi Radiologi dari Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta.

Baca juga:  Iduladha, Wujud Ukhuwah Islamiyah

Kepala MAN 5 Sleman Akhmad Mustaqim mendukung adanya kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan kegawatdaruratan sangat penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan siswa dalam menghadapi situasi darurat.

“Ini langkah positif dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan siap bertindak saat keadaan darurat. Sehingga, ini sebuah investasi berharga untuk keamanan dan kesejahteraan seluruh anggota sekolah,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Unit Kesehatan Sekolah (UKS) MAN 5 Sleman Iis Aisyah menuturkan, gelaran ini berfokus pada peningkatan pemahaman kapasitas pembidaian dan Resusitasi Jantung Paru (RJP) di lingkungan sekolah. Pasalnya, musibah kerap kali terjadi secara mendadak. Sehingga pertolongan pertama sangat diperlukan, agar tidak terjadi sesuatu yang fatal.

Baca juga:  Mahasiswa UGM Kembangkan Batako Enviroblock dari Sampah Plastik

“Pentingnya pengetahuan dan ketrampilan terkait teknik dasar penyelamatan korban dari berbagai musibah sehari-hari yang biasa dijumpai. Oleh karena itu, diperlukannya kesiapan bagi setiap individu dalam mengurangi risikonya,” terangnya.

Adapun rangkaian pelatihan tersebut, melibatkan pemberian materi ilmu pembidaian dan RJP, praktik pembidaian, serta praktik memompa jantung. Pemberian wawasan dan keterampilan itu dilakukan untuk menangani situasi darurat, terutama yang berkaitan dengan korban patah tulang dan tindakan RJP.

“Jadi tujuan utama memberikan pemahaman dan keterampilan siswa agar dapat melakukan pertolongan pertama pada situasi kegawatdaruratan di lingkungan sekolah. Khususnya, fokus diberikan pada tindakan-tindakan yang perlu diambil saat menghadapi korban patah tulang dan teknik RJP yang efektif,” bebernya.(bam/sam)