Kudus  

Razia Knalpot Brong di Kudus Sasar Anak Sekolah

IMBAU: Kapolsek Kaliwungu tengah mengedukasi kepada ratusan siswa SMP 2 Kaliwungu terkait bahaya knalpot brong dan balap liar, Senin (15/1/24). (UMI ZAKIATUN NAFIS/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Sejumlah tempat menjadi sasaran jajaran Polres Kudus melakukan sosialisasi terkait larangan penggunaan knalpot brong. Satlantas Polres Kudus melaksanakan sosialisasi larangan knalpot brong dan bahaya balap liar ke sekolah-sekolah di Kudus, Senin (15/1/24).

Kapolres Kudus, AKBP Dydit Dwi Susanto, melalui Kasatlantas AKP I Putu Asti Hermawan Santosa mengatakan, pemberantasan pengguna knalpot brong di usia sekolah masih banyak. Maka, pihaknya juga menyasar sekolah di Kudus untuk diberikan edukasi terkait dampak knalpot brong hingga balap liar.

“Tujuan kami tentunya baik. Karena sosialisasi ini guna menciptakan ketenangan sekaligus menegakan aturan berlalulintas. Sebab, selama ini salah satu sumber kebisingan yang menggangguu ketenangan di jalanan adalah penggunaan knalpot brong,” katanya.

Baca juga:  Lembaga Jerami Kudus Minta Pelajar Naik Level

Lanjut Putu, melalui sosialisasi, Polres Kudus melakukan upaya preventif mengurangi kebisingan. Sebab penggunaannya meresahkan yang diakibat penggunaan knalpot brong pada kendaraan bermotor.

“Kami lakukan ke beberapa sekolah di Kudus baik negeri maupun swasta. Harapannya kota Kudus menjadi kota yang tenang dan nyaman setelah sosialisasi ini dilakukan,” imbuhnya.

Kepala SMP 2 Kaliwungu, Fitriani mengharapkan, adanya sosialisasi larangan knalpot brong dan balap liar bisa dipatuhi oleh anak-anak. Sehingga mereka bisa menggunakan motor dengan tertib untuk pergi sekolah.

Fitria mengakui, penggunaan sepeda motor bagi siwa SMP menjadi hal yang dilarang. Dahulu, kata dia, sempat ada sosialisasi antara anak dan orang tua terkait imbauan penggunaan sepeda motor. Akan tetapi hanya berjalan satu bulan.

Baca juga:  MTs Mualimat Kudus Terus Dorong Siswa Tingkatkan Prestasi Akademik

“Komunikasi kepada orang tua selalu kami lakukan. Karena terkait kendaraan bermotor juga seharusnya mereka tidak boleh menggunakan. Akan tetapi semua serba dilema. Akhirnya cuma berjalan sebulan, setelahnya mereka kembali memakai kendaraan,” ungkapnya.

Menurutnya, usia SMP menjadi sasaran yang tepat untuk diberikan sosialisasi. Selain itu, peran berbagai pihak juga dibutuhkan, baik sekolah maupun orang tua.

“Kami pihak sekolah membantu. Akan tetapi yang paling utama juga pengawasan orang tua selaku pemberi fasilitas sehingga bisa memberikan ketegasan kepada anaknya,” pungkasnya. (cr1/fat)