Sekolah Harus Jadi Fasilitator Pencarian Jati Diri Siswa

MELANGGAR: Salah satu siswa SMKN 3 Semarang usai melepas knalpot brong dari motornya, belum lama ini. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Kepala SMKN 3 Semarang, Harti menyebut, penggunaan knalpot brong pada remaja umumnya berkaitan dengan masa-masa pencarian jati diri. Kemudian keinginan untuk mencoba hal-hal baru, hingga tantangan dari sesama anggota kelompok pertemanannya.

Oleh karena itu, dirinya menegaskan jika pihak sekolah harus hadir dan siap membimbing ketika siswa melewati masa-masa tersebut. Menurutnya, sekolah harus berperan sebagai fasilitator yang memfasilitasi siswa dalam masa pencarian jati diri mereka.

Ia mengatakan pihaknya telah melakukan sosialisasi mengenai larangan menggunakan knalpot brong sejak November 2023 lalu. Kerja sama dilakukan dengan Polsek Semarang Selatan, Satpol PP, hingga Bhabinkamtibmas. Tujuannya untuk memberikan edukasi kepada para siswa.

Baca juga:  Wali Kota Semarang Minta Finishing Pembangunan RSUD Mijen Dikebut

“Gaung untuk bebas knalpot brong sudah dilakukan di SMKN 3 Semarang jauh-jauh hari, kalau sampai hari ini mestinya sudah zero knalpot brong karena sosialisasi telah diadakan,” ucapnya saat dikonfirmasi Joglo Jateng, belum lama ini.

Ia menambahkan, pada Senin (8/1/2024) lalu pihaknya telah mengadakan penindakan yakni pelepasan knalpot brong. Diketahui, masih ada dua siswa yang masih menggunakan alat tersebut, sehingga mereka disuruh melepas knalpotnya sendiri di bengkel sekolah.

“Knalpot brong dikembalikan setelah mereka memasang yang standar,” jelasnya.

Terpisah, Kepala SMK Mataram, Eri Setiawan menyampaikan, pihaknya telah rutin melakukan pemeriksaan kendaraan siswa di lingkungan sekolah sejak awal Juli 2023. Siswanya mengaku memakai knalpot brong supaya terlihat keren dan untuk pamer dengan kelompoknya masing-masing. Diketahui, ada sekitar 5 persen dari 600-an siswa yang memasang knalpot brong.

Baca juga:  Meski Ribuan Buruh Kena PHK, Tingkat Pengangguran Menurun

“Kita larang motor berknalpot brong masuk ke sekolah, harus parkir di luar tidak boleh masuk ke sekolah. Setelah dua sampai tiga bulan mulai berkurang,” ujarnya. (int/adf)