Jepara  

Curah Hujan Tinggi, Nelayan Jepara Kesulitan Mencari Ikan

POTRET: Curah hujan tinggi membuat nelayan Jepara alami kesulitan mencari ikan, di Jepara, Kamis (18/1/24). (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Sejumlah nelayan di Jepara, terpaksa tetap melaut di tengah cuaca ekstrem hujan. Curah hujan yang tinggi mengakibatkan sejumlah nelayan mengalami kesulitan melaut. Para nelayan tetap memilih mencari ikan lantaran untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Seorang nelayan di Desa Teluk Awur, Salibi (52) mengaku kondisi curah hujan yang tinggi mengakibatkan gelombang ombak laut kian menaik. Kondisi tersebut harus dirinya terima. Sebab akan pulang tanpa hasil tangkapan ikan yang banyak.

“Sekarang sepi, hasil tangkapan ikan juga tidak seberapa banyak. Walaupun begitu, harus tetap ditekuni demi kebutuhan,” ungkap Salibi kepada Joglo Jateng

Baca juga:  KPU Jepara Segera Distribusikan Logistik Pemilu 2024

Hal itu juga dirasakan oleh nelayan asal Bandengan, Sigit (30). Ia mengungkapkan, saat ini cuaca di perairan laut Jepara dalam kondisi tidak normal akibat dampak curah hujan tinggi. Bahkan ketinggian ombak mencapai 1-2 meter di tengah laut.

“Ketinggian ombak sekitar 1-2 meter. Semakin tinggi gelombang, maka tidak ada ikan. Apalagi sekarang cuaca hujan, angin besar sangat tidak menentu,” ujarnya.

Sigit juga menambahkan keuntungan yang di dapat dari melaut kini kian merosot. Jika pada musim kemarau hasil tangkapan ikan mencapai 300 kilogram. Maka musim hujan 200 kilogram.

Baca juga:  Anggaran Dipangkas, Disperkim Jepara Tetap Penuhi Target 1.000 Rumah

“Kondisi musim yang tidak menentu, justru membuat penghasilan semakin sedikit dan malah rugi. Dari 300 kilogram menjadi 200 kilogram,” tambah Sigit.

Sementara itu, di pasaran, harga produk laut masih tetap sama. Tidak ada perbedaan antara musim kemarau dan hujan. Kondisi tersebut membuat Sigit kecewa, karena tidak sesuai dengan hasil tenaga dan juga biaya operasional yang dikeluarkan saat melaut.

“Harga di tengkulak masih sama, rata-rata dibanderol Rp 50 ribu perkilo. Seharusnya musim seperti ini naik Rp 10 ribu atau berapa, tapi malah tetap sama,” pungkas Sigit. (cr4/fat)