UMKM  

Kembangkan Usaha Katering dengan Konsisten

Manda Merisa
Manda Merisa. (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

MENDIRIKAN usaha katering sendiri tentu tidak mudah. Namun berkat niat yang sungguh-sungguh, Manda Merisa (35) dapat menghasilkan omzet dari Rp 200 juta hingga Rp 250 juta per bulan dari bisnis ini. Dirinya menyakini bahwa konsisten adalah hal yang terpenting bagi pengusaha saat menjalani bisnis.

Pemilik Usaha Katering dan Hampers ‘Mama Mertua’ ini mengungkapkan, awal mula ia berjualan katering adalah pada akhir tahun 2019. Nama brand ‘Mama Mertua’ berasal dari kolaborasi antara sang ibu dan mertuanya.

“Waktu itu mama mertua saya lihat, dan dikiranya dia akan dilibatkan jadi adilnya mama mertua itu kolaborasi dari mama dan mertua saya. Jadi ‘Mama Mertua’. Idenya dari saya, kalau konsep produk makanan itu mamah saya, karena kebetulan buka katering juga yang ada di Kudus,” jelasnya kepada Joglo Jateng, Senin (22/1/24).

Ia menambahkan, Mama Mertua berpusat di Semarang. Kemudian merambah ke Kudus dan jangkauan pembelinya sampai ke Pati.

“Awal-awalnya bikin ini iseng tadinya saya basic-nya jualan baju sampai sekarang masih. Bisnis iseng ini ternyata jalan dan pertumbuhannya cepat jadi akhirnya saya all out disini,” ungkapnya.

Dirinya mengaku sejak kecil memiliki passion di dunia enterpreneur. Ia tidak mempunyai pengalaman bekerja dengan orang lain, dan terus belajar untuk menjalankan bisnis.

“Saya tetap kerja dan kalau tidak gitu tidak ada tanggung jawabnya,” ujar dia.

Pengalaman tidak menyenangkan tentu pernah ia alami selama menjalankan bisnis. Salah satunya saat membangun tim.

“Suka dukanya, lebih ke tim, tapi untuk produk enggak. Namanya membangun tim,” katanya.

Selain itu, seringkali pesanan salah kirim ke alamat tujuan. Paling parahnya lagi, produk makanan yang ia antar terlanjur dimakan oleh pemilik rumah yang sebenarnya tidak memesan makanan itu.

“Misalnya udah benar alamat kadang di titik maps gak tidak benar tapi dah terlanjur dimakan dan pesanan itu asal taruh di depan. Alhasil kita ganti kalau gak salah nominalnya Rp 1,5 juta. Nah antisipasinya biar gak terulang lagi kita terus follow-up pemesan (agar tidak terjadi salah kirim lagi, Red.),” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menerangkan, dalam strategi marketing, dirinya memanfaatkan teknologi digital. Yakni media sosial yang dikelola oleh tim khusus.

“Ada juga jaringan, karena saya temannya banyak yang mayoritas itu mereka influencer. Jadi mereka yang promote-in biar brand-nya naik,” ujar Manda.

Adapun beberapa produk dijual antara lain kue kering, kue ulang tahun, makanan basah, dan hampers di setiap momen perayaan tertentu. Seperti Imlek, Lebaran, Natal, dan hari besar lainnya.

Dirinya menyakini, layanan kateringnya sangat berbeda dengan orang lain. Sebab, ia menawarkan solusi untuk orang-orang yang sibuk, ingin membeli produk yang praktis, namun terkesan perfeksionis.

“Orang biasanya bikin sendiri karena dia takut percaya sama orang lain. Nah kita bikin yang kamu inginkan dan harapkan. (Setelah itu, Red.) terima beres,” pungkasnya.

Biasanya, setelah pesanan telah selesai dikirim ke alamat tujuan, kata Manda, ia langsung meminta umpan balik. Jika ada saran dari pembeli untuk produk maupun pengiriman, Manda akan menampungnya.

“Hal itu untuk perbaikan. Kalau misal ada saran kita tampung sebagai acuan untuk kedepannya,” tutupnya. (int/adf)