Pemilih Disabilitas Berharap Fasilitas Pencoblosan Dipersiapkan Lebih Matang

SUASANA: Salah satu penyandang disabilitas saat menaruh surat suara ke dalam kotak suara di salah satu wilayah Kota Semarang saat pemilu 2019 lalu. (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Salah satu Tuna Daksa yang saat ini bekerja di Semarang, Risma Meitarusi (31) berharap fasilitas pada saat hari pencoblosan pemilu 2024 lebih dipersiapkan dengan matang. Khususnya bagi kaum disabilitas. Baik untuk akses ke bilik suara, menyoblos, serta saat memasukkan surat suara ke kotak suara.

“Lebih prepare misal di KPU atau di tempat ini ada penyandang disabilitas atau tidak. Misal ada, penyandang disabilitas yang dibutuhkan apa? Yang bisa disiapkan apa? Agar penyandang disabilitas juga punya hak memilih,” ucapnya saat dihubungi Joglo Jateng, Senin (22/1/24).

Selain itu, dirinya juga meminta kepada petugas KPPS untuk lebih peduli dan teliti pada saat pendataan saat pemilu. Hal itu lantaran, saat ia akan menyoblos pada pemilu 2019 lalu, tidak ada fasilitas bilik khusus difabel di TPS wilayahnya.

Baca juga:  Panwaslu Kelurahan Harus Miliki Jiwa Berani dan Tegas

“Tahun 2019, pertama kali nyoblos sebagai penyandang disabilitas di tempat saya itu tidak ada sosialisasi untuk pengenalan khusus difabel. Dari lingkungan setempat dateng ke rumah cuman infoin tanggal pencoblosan saja begitu. Sesampainya ke TPS ternyata saya satu-satunya ya di tempat TPS yang difabel,” ujar dia.

Saat itu, kata dia, dirinya menggunakan kaki palsu. Sehingga harus dibantu oleh petugas, karena Risma kesulitan untuk menuju bilik pencoblosan.

Menurutnya, salah satu jenis disabilitas yang membutuhkan pendampingan lebih intens dari KPPS, yakni tuna netra. Oleh karena itu, dirinya menyarankan supaya petugas KPPS lebih membantu tuna netra untuk mengarahkan coblos calon legislatif (caleg) secara jujur.

Baca juga:  2.100 Bibit Mangrove dan Cemara Ditanam di Pantai Mangunharjo Semarang, Rayakan Hari Lingkungan Hidup!

“Lebih susah mungkin untuk teman-teman yang memiliki keterbatasan lebih kompleks,” ujarnya.

Dalam pengalaman saat pemilu 2019 lalu, lanjut Risma, ia pernah mengikuti kegiatan perkumpulan kaum disabilitas di daerah. Namun, ternyata acara itu disambungkan dengan acara kampanye oleh salah satu caleg.

“Katanya ada sosialisasi pemilu tapi didalamnya ada pendukung salah satu kubu pas tau ‘kok gini? Wah harus milih-milih dalam kegiatan’. Aslinya bagus kegiatannya sharing-sharing disana ada temen-teman tuna netra, tuli,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua KPU Kota Semarang, Henry Cassandra Goeltom menyampaikan dalam keputusan No 66 Tahun 2024 telah diatur bahwa alasan fasilitas untuk difabel lebih diperhatikan. Baik dari sisi akses, ketinggian bilik, hingga tempat kota suara. Sehingga, dari segi keramahan fasilitas untuk disabilitas telah dinilai cukup baik dalam pemilu 2024 ini.

Baca juga:  Pilkada Kota Semarang 2024: Iin Ajak Santri Berani Memimpin, Wawan Bikin Program Atasi Banjir

“Hal ini terus kita perhatikan agar terjangkau semuanya. Saya kira merujuk hal itu KPU juga turut melayani seluruh elemen masyarakat termasuk di dalamnya kaum difabel,” pungkasnya. (int/adf)