Figur  

Kejar Passion di Dunia Fashion

Nandita Faiza
Nandita Faiza. (DOK. PRIBADI/JOGLO JOGJA)

MESKI sibuk menjadi mahasiswa di Prodi Ilmu Komunikasi UII serta harus menuntaskan kegiatan di pesantren, perempuan bernama Nandita Faiza, tetap mampu membagi waktu untuk mengejar passionnya.

Pernah berjuang di ajang pemilihan Hijabfluencer 2023 lalu, Nandita, sapaan akrabnya, menjadi finalis termuda yang mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan berhasil melaju skala nasional. Ketertarikannya dengan dunia fashion terutama style hijabers membawanya terjun dalam kontestasi itu.

Putri Hijabfluencer adalah ruang bagi perempuan muslimah Indonesia untuk mengembangkan minat, bakat, kreativitas, dengan harapan terus menginspirasi publik. Menurutnya, berpakaian sesuai syariat Islam tak akan menghalangi langkah seorang muslimah. Ia ingin membuktikan muslimah tetap mampu eksis di tengah gempuran berbagai tren.

Baca juga:  Tetap Produktif di Tengah Padatnya Kesibukan

“Saya berharap, mengikuti Putri Hijab bisa menjadi syiar dakwah. Serta mengajak para perempuan muslim untuk menutup aurat, agar bisa istiqomah,” terangnya.

Nandita Faiza menceritakan perjalanannya dalam kontestasi itu, di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa dan juga santri. Namun, membuatnya merasa tertantang dalam menghadapi ketakutan dan kegagalan. Akan tetapi, tantangan itu justru menjadi semangatnya untuk terus berjuang.

Ia mengaku, menyukai dunia fashion sejak usia kanak-kanak. Tapi, sejak adanya perkembangan, dirinya merasa beberapa style fashion para muslimah menjadi sedikit melenceng. Sehingga, tidak mengindahkan maksud dari eksistensi hijab itu sendiri.

“Meskipun saya paham, jika berbicara masalah hijab dan agama banyak pro dan kontra yang harus dihadapi. Hal ini tidak melemahkan tekad saya untuk membuktikan, sekaligus mengajak para muslimah supaya berpakaian dan khususnya berhijab, dengan fashion atau style tertentu. Tetapi tidak menyalahi aturan tetap menutup aurat,” ungkapnya.

Baca juga:  Ketidaksengajaan Berbuah Jadi Kesenangan

Baginya, Putri Hijab merupakan sebuah peluang besar untuk memperbaiki diri dan mengubah kelemahannya menjadi kelebihan. Dalam ajang kontes, berdakwah tidak melulu harus berupa ceramah. Pasalnya, bagaimana orang berperilaku dan merepresentasikan diri sebagai seorang muslimah  merupakan nilai dakwah.

“Ajang ini merupakan ajang terbesar yang pernah saya ikuti sebelumnya. Saya bisa dibilang cukup muda dibanding finalis lainnya, masih sangat perlu belajar dan menggali pengalaman lebih banyak lagi,” tuturnya.

Dalam kontes itu, ada banyak sekali insight yang ia dapatkan. Namun, yang paling bermakna baginya ketika bertemu dan menggali hal-hal inspiratif dari setiap finalis yang ditemui.

Baca juga:  Mahasiswa UAD Bercita-Cita Bangun Brand Baju Sendiri, Cireng Jadi Modal Awal

“Saya belajar tentang makna dari sebuah kompetisi supportif, menjaga amanah, integritas, perjuangan, kebersamaan dan terpenting bagaimana menghargai dan mencintai diri sendiri tanpa adanya rasa minder sedikitpun. Karena sejujurnya masing-masing dari finalis memiliki sifat, sikap, budaya, kelebihan dan potensi yang sangat beragam berbeda-beda,” jelasnya.

Rencananya sebagai Putri Hijab DIY, runner up 2 ini mengaku masih akan mengabdi dan berusaha terus menebarkan kebermanfaatan dari apa yang sudah dipelajari dan dimiliki. “Karena memang salah satu misi saya mengikuti ajang ini berpegang teguh pada dalil, sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi orang lain,” tutupnya.(bam/sam)