Banjir Semarang, Air ke Sungai Melebihi Kapasitas

Sekjen HATHI Cabang Jawa Tengah, Muhammad Adek Rizaldi
Sekjen HATHI Cabang Jawa Tengah, Muhammad Adek Rizaldi. (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Sekjen Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI) Cabang Jawa Tengah, Muhammad Adek Rizaldi mengatakan, Provinsi Jawa Tengah spesifikasi dominan masalahnya adalah banjir. Khsusnya persoalan banjir di Kota Semarang yang tak kunjung selesai.

Menurut Adek, air yang turun dari hujan itu seharusnya 70 persen masuk tanah dan 30 persennya mengalir di sungai. Namun sekarang yang terjadi justru kebalikannya.

“Dulu 70 persen air itu masuk tanah, tapi sekarang ini hanya 30 persen karena daerah tangkapan air sudah beralih menjadi permukiman. Begitu masuk sungai, sungai ya ndak mampu, akhirnya meluap. Inilah tantangan ke depan,” ucapnya usai FGD HATHI di Politeknik PU Jalan Soekarno Hatta Semarang, Rabu (31/1/24).

Baca juga:  Mendag Tinjau Stok Beras di Pasar Bulu Semarang

Adek menyebut, ada dua upaya yang harus dilakukan untuk penanganan banjir di Kota Semarang. Yakni struktural dan non struktural.

“Struktural itu kita membangub fisik, mengerjakan normalisasi sungai, membuat tanggul, meninggikan tanggul. Tapi yang kita lakukan ini ada batasnya. Kenapa? Kalau kita mau memenuhi 70 persen tadi, kita butuh sungai yang sangat lebar sekali, sanggup nggak kita membebaskan, sanggup nggak kita realisasikan di masyarakat,” ujarnya.

Sedangkan, untuk penyelesaian non struktural yang permasalahan kondisi resapan air yang ada di hulu kian hari makin habis. Hutan mulai banyak yang gundul karena kebutuhan tempat tinggal masyarakat, atau dibukanya perumahan-perumahan baru.

Baca juga:  Kesadaran Moral Atasi Kerusakan Lingkungan

“Bagaimana kawasan hulunya ini kita perbanyak untuk kawasan serapan, supaya ndak 70 persen masuk ke sungai semua, nah itu jelasnya,” ucapnya

Senada, Kepala BBWS Pamali Juana, Harya Muldianto mengatakan, bahwa memang kondisi air yang saat ini masuk sungai melebihi batas kapasitas mestinya. Menurutnya butuh effort maksimal dalam menghadapinya.

“Masalah di Jateng ada dua, masalah kelebihan air, kekurangan air dan kualitas air. Jadi ada tiga hal yang harus kita kendalikan. Masalah kelebihan air, kita spesifik menghadapi run off air hujan, air limpas dari sungai. Karena sungai tidak mampu, air masuk ke kawasan (pemukiman atau area di luar sungai lainnya),” ungkap Harya. (luk/gih)