DIY Dinilai Mampu Capai Target Penurunan Stunting

Kepala BKKBN RI Hasto Wardoyo
Kepala BKKBN RI Hasto Wardoyo. (ISTIMEWA/JOGLO JOGJA)

YOGYAKARTA, Joglo Jogja – Prevalensi stunting di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah mencapai angka 16,4 persen, di bawah 21,6 persen. Hal ini menjadikan DIY sebagai salah satu provinsi terendah di Indonesia, jauh di bawah rata-rata nasional sebesar 21,6 persen.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI Hasto Wardoyo mengungkapkan, DIY mampu mencapai target penurunan stunting dengan melakukan pencegahan dini. Salah satunya menggandeng Kantor Urusan Agama (KUA).

“Misalnya memberikan arahan kepada calon pengantin, karena kesadaran mereka sangat penting dalam mengurangi angka stunting. Mengingat hanya sekitar 20,5 persen dari kurang lebih 20.000 pasangan yang menikah di 2023 dan terdaftar di Sistem Informasi Manajemen Kependudukan (Simkah),” ujarnya.

Baca juga:  Sukseskan Pemilu, Dindukcapil Kota Yogyakarta Lakukan Jemput Bola Pembuatan e-KTP

Hasto juga menerima usulan Wakil Gubernur DIY terkait local wisdom. Sebagai upaya mengedukasi masyarakat terkait penanganan stunting. Menurutnya, kearifan lokal dapat menjadi alat kreatif untuk memberikan pemahaman kepada keluarga.

“Jika ada acara tingkep atau perayaan usia kehamilan tujuh bulan, kita dapat mengadakannya secara massal dan memberikan edukasi sekaligus. Saat bayi sudah di usia itu, posisi kepalanya seharusnya sudah di bawah, jika tidak maka dianggap sungsang. Oleh karena itu, setelah perayaan tingkep, disarankan untuk dimiringkan agar tidak terjadi hal itu,” jelasnya.

Baca juga:  Mahasiswa Dilibatkan dalam Pengawasan Jalannya Pemilu

Kendati demikian, pihaknya tetap mengimbau agar DIY harus terus berupaya tetap menjaga dan menurunkan angka stunting sebesar 2 persen lagi, untuk mencapai target nasional 14 persen. “Pencapaian ini telah membanggakan dengan menjadi lima wilayah besar terendah di Indonesia,” tandasnya.(suf/sam)