Minggu Pertama PPDB Inklusi di Semarang, 32 Siswa Sudah Mendaftar

SUASANA: Sejumlah orang tua calon peserta didik inklusi saat mendaftarkan sekolah anaknya di Kantor Dinas Pendidikan Kota Semarang, Selasa (6/2/24). (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Pada Minggu pertama Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) inklusi, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang menyampaikan sebanyak 32 calon siswa berkebutuhan khusus telah mendaftar ke sekolah negeri. Dari jumlah tersebut, 11 di antaranya akan masuk sekolah dasar (SD), dan 21 lainnya mendaftar sekolah menengah pertama (SMP).

Sub Koordinator Kurikulum dan Penilaian Bidang Pembinaan SMP Disdik Kota Semarang, Fajriah mengatakan, komposisi calon siswa inklusi hampir merata berasal dari semua kecamatan. Mayoritas dari mereka adalah penyandang disabilitas mental, yakni lambat belajar atau slow learner.

“Itu akan terlihat tatkala sudah memulai pembelajaran. Maka yang paling banyak itu SMP. Meski banyak yang terdeteksi inklusi di SD kita tetap melakukan asesmen ulang karena tidak bisa mengatakan inklusi tanpa adanya hasil asesmen,” ucapnya saat ditemui Joglo Jateng, Selasa (6/2/24).

Baca juga:  Vita Dapat Beasiswa di SMA Mardisiswa

Dalam proses pelaksanaan PPDB inklusi periode 2024/2025, kata Fajriah, pihaknya membagi dua jenis calon peserta didik. Yakni permanen dan temporer.

“Kalau permanen seperti di PPDB ini mereka sudah diketahui permanen. Kalau temporer seperti yang saya katakan setelah dia mengikuti pembelajaran dia mengalami kekerasan misalnya. Atau korban kecelakaan dia harus di RS. Dan dia tidak bisa bangun tidak mungkin disamakan dengan kurikulum reguler. Dengan harapan nanti sembuh dan kedisabilitasan itu kecil,” jelasnya.

Ia menyebut, pihaknya tidak mematok target pendaftar inklusi. Namun disdik telah melakukan sosialisasi ke elemen masyarakat terkecil, yakni RT dan RW di masing-masing wilayah setempat.

Baca juga:  Unwahas Gelar Kuliah Tamu Bahas Pembangunan Berkelanjutan dan Hukum Bisnis

“Kita buka sampai dua gelombang agar mereka yang tertinggal bisa ikut,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menerangkan, kuota pendaftar inklusi pada tahun ajaran ini dibatasi sebanyak 15 persen. Di samping itu, setiap sekolah bisa menerima pendaftaran jalur inklusi atau afirmasi.

“Kalau kita sesuai dengan Permendikbud No 48 Tahun 2023 diatur maksimal 2 dalam satu kelas nanti kita akan berupaya sesuai dengan regulasi yang baru. Jadi di dalam kelas itu maksimal 2 siswa inklusi untuk yang ringan dan berat. Jalur itu memuat dua kategori yaitu siswa miskin dan disabilitas dengan jumlah kuota 15 persen itu fleksibel,” paparnya.

Baca juga:  Bawaslu Kota Semarang Ajak ASN Tetap Netral selama Pilkada

Dirinya berharap, PPDB inklusi ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Usai PPDB inklusi, pihaknya juga akan mengadakan pendataan siswa inklusi dari satuan pendidikan (satpen). Dilanjut, pembekalan tentang bagaimana caranya melayani peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) ini. (int/adf)