Konsisten tidak Terima Suap

Ketua AJI Semarang periode 2021-2024, Aris Mulyawan
Ketua AJI Semarang periode 2021-2024, Aris Mulyawan. (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

MENJAGA idealisme dan sikap profesional dalam menjalankan tugas sebagai jurnalis memang tidak mudah. Beragam jenis benturan tak jarang terjadi. Salah satunya ketika seorang wartawan ditawari ‘amplop’ untuk menulis sebuah berita pesanan yang tidak bisa diverifikasi kebenarannya.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang, Aris Mulyawan (46) mengaku bahwa dirinya mengutamakan kepentingan publik dalam menyusun sebuah berita. Sehingga, sejak awal menjadi wartawan ia menolak praktik suap meskipun gajinya terbilang kecil.

“Dinamikanya kalau mau jadi jurnalis karena gaji kecil belum gabung AJI saya waktu itu konsisten tidak menerima suap sehingga hidupnya pas-pasan. Waktu itu belum ada kendaraan. Kendaraannya di Jogja. Paling kalau nggak ngebis atau jalan kaki,” ucapnya saat ditemui Joglo Jateng di Sekretariat AJI Semarang, belum lama ini.

Seiring berjalannya waktu, ia kemudian pindah ke Semarang dan sempat juga dipindahtugaskan ke beberapa wilayah lainnya untuk menjalankan tugas peliputan. Salah satunya tentang kasus pelanggaran pemilu.

Baca juga:  Sinergi Pemkot Semarang dan DPRD Kendalikan Banjir: Cegah Banjir Besar Terulang!

“Pernah dipanggil kejaksaan. Dan itu bagian dari dinamika. (Saya, Red.) pernah ditelpon dan diintimidasi. Dinamika itu kita nikmati,” ungkap Arif.

Meski pernah mengalami berbagai ancaman dalam proses peliputan, hal itu diakui Aris tidak memengaruhi aktivitas sosialnya. Dirinya juga tidak ambil pusing berkepanjangan.

“Saya tidak sampai separanoid itu. Tapi kemudian gabung di AJI jadi paham keamanan dan sebagainya. Ibaratnya kita seperti seorang pendaki gunung dan itu akan memperkaya kita sampai ke puncak gunung. Jadi kita harus ambil indah dan hikmahnya,” ujar dia.

Menurutnya, jurnalis harus saling belajar dan diwajibkan untuk memahami berbagai topik. Selain sumbernya dari baca buku, mereka juga harus membaca pertanda alam dengan memeriksa banyak data. Utamanya untuk memverifikasi perkataan narasumber.

Baca juga:  Ayah dan Anak Lulus Bersama di UIN Walisongo

“Jurnalis itu berat, tergantung kita melakukannya. Kita bekerja kepada kepentingan publik. Apakah teman-teman (jurnalis, Red.) sudah mengetahui hal itu belum? Ketimpangan adanya iklan dan berita, harus ada garis api. Wartawan ya urusan redaksi. Kalo iklan itu marketing,” tandasnya.

Arif mengatakan, media harus memiliki manajemen yang jelas. Sehingga urusan bisnis dan redaksi tidak dicampur.

“Kalau cari iklan kamu disuruh milih nyari berita atau iklan. Biar ruang redaksi itu independen,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, apabila jurnalis menemukan suatu temuan fakta, maka itu wajib hukumnya ditulis dan informasi itu disebarluaskan ke publik. Dirinya juga mempertanyakan soal prinsip jurnalis zaman sekarang, apakah mereka memegang teguh idealisme atau tidak.

Lebih lanjut, ia menerangkan, di masa mendatang jurnalis masih akan tetap dibutuhkan dan mereka yang benar-benar seorang jurnalis maka dipastikan dicari oleh publik. Karena telah menyampaikan informasi yang benar.

Baca juga:  54 Dosen dan Mahasiswa UIN Walisongo Terpilih di AICIS 2024

“Jurnalis itu menjadi suluh. Ketika banjir informasi mereka akan mencari kualitas dan benar. Kemudian masyarakat akan menilai. Saya yakin sejarah akan seperti spiral. Zamannya berbeda tapi persoalan sama,” imbuh Aris.

Dirinya berpesan kepada teman-teman wartawan untuk menaati UU Pers dan kode etik jurnalistik. Dengan begitu, mereka akan aman dari segala bentuk gangguan. Mulai dari intimidasi, intervensi, hingga diskriminasi dari pihak tertentu.

Terlebih, saat ini menurutnya kebebasan pers sedang tak baik-baik aja. Sebab dari laporan yang dihimpun AJI Indonesia, banyak kekerasan terhadap jurnalis.

“Artinya kebebasan pers harus perlu diperjuangkan. Profesionalitas ditingkatkan, kesejahteraan gaji, perlindungan kesehatan, dan sebagainya. Nah itu yang perlu diperjuangkan bersama,” pungkas Arif. (int/adf)