Kudus  

Nestapa Sugeng dan Munayati, Pisah dari Keluarga Hingga tak Punya Apa-apa

TEGAR: Saat ditemui Joglo Jateng di Posko Pengungsian Terminal Jati, sarga Kecamatan Karanganyar, Demak, Sugeng (53) tengah menceritakan kejadian terjebak di lantai dua rumah tetangga dan sempat terpisah dengan putrinya. (UMI ZAKIATUN NAFIS/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Bencana banjir di Kabupaten Demak menyisakkan banyak kisah dibaliknya. Banyak korban yang kehilangan harta benda bahkan sempat terpisah dari keluarganya.

Hal ini diceritakan Warga Kecamatan Karanganyar, Demak, Sugeng (53). Saat ditemui Joglo Jateng di Posko Pengungsian Terminal Jati, ia nampak beristirahat bersama keluarganya yang sempat terpisah. Saat banjir itu datang, ia bersama 25 warga lainnya mengaku terjebak selama satu hari satu malam di lantai dua rumah salah seorang warga.

“Yang menjadi saya tidak tenang adalah anak perempuan saya sempat hilang sebelum bertemu di posko pengungsian. Dia sempat terjebak melawan arus banjir. Alhamdulillah sehat dan bisa bertemu sekarang,” ungkap Sugeng dengan mata berkaca-kaca.

Baca juga:  Jaga 7 Stabilitas Komoditas Pangan Melalui GPM

Sugeng dan pengungsi lain tak menyangka banjir terjadi sangat parah di 2024 ini. Padahal, mereka tak pernah melakukan kesiap-siagaan adanya banjir ini. Dahulu, kata Sugeng, banjir memang sempat terjadi pada 1982, berlanjut di 10 tahun kemudian yaitu 1992 dan 1994.

“Di daerah Magersari itu sudah lama. Jadi kita pun tidak pernah menyangka. Apalagi kemarin kemarau panjang,” katanya pada Minggu, (11/02/2024).

Ia menduga kiriman air dari jebolnya tanggul semakin melebar membuat air terus masuk ke pemukiman warga.  Hingga saat ini, kata Sugeng, ketinggian air sampai di rumahnya bisa mencapai hingga 2 meter atau bahkan lebih.

Baca juga:  Suporter Macan Muria Sambut Tim Persiku Kudus

“Terakhir kami tinggalkan tingginya sampai atap rumah. Maka kami bersyukur pada Jumat pukul 03.00 pagi bisa tiba di posko. Kami pun memaklumi teman-teman SAR yang memang tidak segera mengevakuasi. Karena lokasi banjir yang meluas dan tenaga yang harus dipush terus-terusan,” imbuhnya.

Sementara itu, Warga asal Karanganyar, Munayati (56) juga tak menyangka, banjir kali ini tidak memberikan jeda untuk mengungsikan barang-barangnya. Menurut keterangannya, ia sempat mengamankan barang berharga di atas lemari sebagai tempat tertinggi.

“Saya simpan itu uang dan surat penting di lemari atas saat air masih sedikit.  Akan tetapi tak lama kemudian banjir datang dengan derasnya dan air langsung meninggi, jadi nggak sempat mengamankan barang-barang,” katanya dengan suara lirih.

Baca juga:  Targetkan Aisyiyah Bermanfaat untuk Semesta

Munayati yang hanya memiliki satu anak ini mengeluhkan kondisi dirinya yang harus memulai dari nol. Suaminya telah meninggal sejak lama.

“Ini kejadian pertama kali yang kita alami. Jadi pastinya kaget. Saya dan anak hanya berdua, kami bingung setelah ini harus memulai dari nol karena tidak punya apa-apa,” pungkasnya. (cr1/fat)