Pati  

Siswa MA Salafiyah Kajen Ciptakan Alat Cek Sel Darah Putih

MEMBANGGAKAN: Tim riset MA Salafiyah Kajen saat meraih prestasi di ajang Asean Innovative Science, Evironmental and Entrepreneur Fair (AISEEF) 2024. (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

PATI, Joglo Jateng – Siswa Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati berhasil menciptakan alat cek sel darah putih. Inovasi baru ini ditampilkan saat ajang Asean Innovative Science, Evironmental and Entrepreneur Fair (AISEEF) 2024.

Alat itu diciptakan oleh lima siswa dari tim riset MA Salafiyah Kajen yang duduk di kelas XI dan XII. Mereka adalah Tsalisa Chulaili Sahri Nova, Yoga Dimas Saputra, Dwi Erfiyan Sadewa, Achmad Najmi Zidan, dan Muhammad Jihaduddin Lathif.

Ketua tim riset MA Salafiyah, Tsalisa Chulaili Sahri Nova menjelaskan, cara kerja alat tersebut mirip dengan oxymeter. Namun yang dihitung bukanlah oksigen melainkan darah putih.

Untuk melakukan pengecekan, yakni dengan masukkan jari ke lubang yang telah disediakan. Nantinya alat ini akan membaca hasil data perhitungan sel darah putih dan akan secara otomatis terbaca di layar hand phone melalui aplikasi khusus yang telah di desain, yaitu Blynk iot.

Baca juga:  Diduga Palsukan Celana Merek Cardinal, Wanita Asal Pati Diseret ke Pengadilan

Berkat ciptaan alat yang diberi nama “LeukoSense: Next-Gen Leukocyte Detection System” ini, tim riset MA Salafiyah berhasil meraih medali emas di kompetisi yang diselenggarakan oleh Fakultas Tehnik Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang yang berkolaborasi dengan Indonesian Young Scientist Association (IYSA). Lomba tersebut sendiri diselenggarakan pada 2-5 Februari 2024 lalu.

“Untuk mencapai titik ini bukanlah suatu hal mudah bagi kami, kegagalan terus terulang berulang  kali dan juga melewati proses jatuh bangun, mendapat kata-kata yang kurang mengenakkan dan lain sebagainya. Tapi hal tersebut tidak membuat mental kami down melainkan menambah semangat kami agar semakin baik supaya mendapat hasil yang maksimal,” kata dia.

Baca juga:  3 Calon Haji Asal Pati Gagal Berangkat

Salah satu guru pembimbing tim riset MA Salafiyah, Isyarotuz Zakiyyah menambahkan, anak didiknya mengambil judul Advancements in Non-Invasive Intelligent Technology for Leukocyte Detection, dalam perlombaan itu. Lomba ini diikuti oleh 462 tim dari 17 negara.

“Suatu tantangan tersendiri anak-anak mengikuti event ini. Larena event ini diadakan langsung secara offline. Tentu persiapan yang panjang kami lakukan. Mulai buat projectnya sampai mendapatkan sebuah alat bantu kesehatan dan itu tidaklah mudah,” tuturnya.

Pihaknya membutuhkan waktu lima bulan untuk persiapan. Yakni dari mulai menentukan ide hingga teori biologi medisnya.

Baca juga:  MTsN 1 Pati Raih Dana SBSN 2024, 6 RKB Baru Segera Dibangun

“Persiapan butuh waktu yang panjang sekitar 5 bulan. Menentukan ide, sampai kolaborasi teori fisika kedokteran, teori smart teknologinya, dan teori Biologi medisnya. Jadi tidak hanya satu teori saja tapi perlu pencermatan di beberapa teori,” ungkapnya.

Menurutnya, Hal itu tentu dilakukan siswa tersebut sesuai arahan pembimbing. Hingga akhirnya alat itu dapat dioperasikan.

“Berulang kali anak-anak mencoba pemasangan namun gagal dan akhirnya diulang lagi. Sampai akhirnya mendekati bulan Januari alat tersebut jadi. Proses panjang itu lah yang paling kami hargai melihat kegigihan anak-anak hingga akhirnya rasa lelah, rasa sempat putus asa, serasa terbayarkan dengan mendapatkan gold medal ini,” pungkasnya. (lut/fat)