Figur  

Sosrokartono, Jurnalis Jenius Ahli 35 Bahasa

KAGUM: Di kompleks makam Keluarga Sedomukti, peziarah sedang mengamati lukisan RMP Sosrokartono yang bertuliskan nama samaran Mandor Kloengso dan Djoko Pring, belum lama ini. (UMI ZAKIATUN NAFIS/JOGLO JATENG)

KOMPLEKS makam Keluarga Sedomukti, Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus nampak asri dan tenang. Dalam satu pagi, belum lama ini, terlihat pengelola sekaligus  juru kunci makam tersebut, Temu Sunarto (57) tengah membaca sebuah buku.

Di kompleks makam itu, Raden sang ahli bahasa sekaligus jurnalis perang dunia Drs. Raden Mas Panji (RMP) Sosrokartono disemayamkan. Di lokasi yang sama, peziarah juga bisa langsung menemukan makam Adipati Ario Tjondronegoro III Bupati Kudus I yang tak jauh dari makam Sosrokartono.

Jika diamati pada batu nisannya, ada doa yang ditulis dengan aksara Jawa. Dalam sebuah batu marmer juga diabadikan salah satu surat Sosrokartono. Ada pula foto dua lukisan kakak RA Kartini itu yang disertai lambang alif.

Temu Sunarto menerangkan, Makam keluarga ini dikelola Yayasan Tjondronegoro. Di kompleks makam ini, ada tokoh Kudus yang dahulu berjasa bagi negara dan bangsa. Kakek, nenek, ayah, ibu, dan kerabat Raden Ajeng Kartini hingga Raden Mas Panji Sosrokartono dimakamkan di sini.

Baca juga:  Ketidaksengajaan Berbuah Jadi Kesenangan

“Sosrokartono lahir pada Rabu Pahing, 10 April 1877. Sejak kecil, ayahnya sudah merasakan kehebatan beliau. Pada usia tiga tahun, Sosrokartono berkata pada ayahnya kalau sebentar lagi (keluarga mereka, Red.) akan pindah ke barat. Ketika itu, sang ayah menjabat Kawedanan Jepara. Tak lama kemudian, ayahnya benar ke barat. Yaitu menduduki jabatan Bupati Jepara,” terangnya.

Sosrokartono merupakan sosok jenius yang menguasai lebih dari 35 bahasa. Saking cerdasnya, orang-orang Eropa menjulukinya Si Jenius dari Timur.

“Tapi memang sejak kecil dia dimasukkan di sekolah Belanda. Pada masa itu, ia mulai mempelajari berbagai bahasa. Mulai dari Inggris, Prancis, hingga Jerman,” kata Sunarto.

Kiprah Sebagai Wartawan Perang Dunia

Sosrokartono menjadi mahasiswa Indonesia pertama yang belajar di Belanda. Ia lulusan Universitas Leiden. Pada momen Perang Dunia I tahun 1914, Sosrokartono masih berada di Eropa. Ia mendaftarkan diri menjadi jurnalis perang di surat kabar ternama terbitan Amerika Serikat, The New York Herald Tribune.

Baca juga:  Ingin Mengabdikan Diri ke Masyarakat

Sosoknya terbilang sukses menjalankan pekerjaan sebagai jurnalis. Salah satu hasil liputannya adalah perundingan antara Jerman dengan Prancis. Pertemuan ini dilakukan rahasia di dalam gerbong kereta yang ditempatkan di hutan pedalaman Prancis dan dijaga sangat ketat.

“Saat meliput perang dunia I Sosrokartono diberi pangkat mayor agar memiliki akses meliput di medan pertempuran. Salah satu hasil liputannya adalah perundingan antara Jerman dengan Prancis. Pertemuan ini dilakukan rahasia di dalam gerbong kereta yang ditempatkan di hutan pedalaman Perancis dan dijaga sangat ketat,” ungkap Sunarto.

Pada 1921, Sosrokartono sempat menjadi pejabat tinggi Kedutaan Besar Prancis untuk Belanda di Den Haag. Empat tahun kemudian, yaitu pada 1925, Sosrokartono kembali pulang ke Tanah Air dan menetap di Kota Bandung. Dua tahun setelah di Bandung, dia juga sempat diminta untuk mejadi direktur sekolah Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantoro.

Baca juga:  Usia Tua Bukan Penghalang Tetap Berkarya

“Sosrokartono dikenal menolak tawaran jabatan. Alasannya karena ingin mendalami ilmu Catur Murti. Yakni ilmu yang mengajarkan manusia menuju kelanggengan dalam hidup dan mendalami tasawuf ma’rifat. Maka pedoman hidupnya adalah huruf Alif,” lanjut Sunarto.

Sunarto menilai, Sosrokartono merupakan sosok yang berhati-hati. Kalau mau berbicara, kalimat yang akan keluar selalu dipikir terlebih dulu. Hebatnya apapun yang dikatakannya selalu terjadi. Misalnya saat Sosrokartono mengatakan bahwa Indonesia pasti merdeka, dan itulah yang kemudian terjadi.

“Sosrokartono kemudian dipercaya sebagai ahli ilmu kebatinan dan spiritual, orang yang mampu mengetahui sesuatu sebelum diberitahu. Namun pada saat itu, kondisi kesehatan Sosrokartono tidak berangsur membaik,” ujarnya.

Pada 8 Februari 1952, sang jenius Raden Mas Panji Sosrokartono wafat. Tepat pada usianya yang ke-74. (cr1/adf)