Figur  

Sadar Peran Perempuan sebagai Agen Kebudayaan

Ryda Kartika Dewi
Ryda Kartika Dewi. (DOK PRIBADI/ JOGLO JOGJA)

PEREMPUAN memiliki peran sentral sebagai agen kebudayaan. Sekaligus berperan dan berkontribusi besar dalam menciptakan, mempertahankan, serta melestarikan produk-produk kebudayaan di masyarakat.

Hal itulah yang dipegang Dyda Kartika Dewi, dalam upaya menjaga tradisi dan budaya adiluhung di Indonesia. Berkat, keyakinan itu, alumnus Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPNVYK) program studi S1 Ilmu Administrasi Bisnis ini, dinobatkan sebagai runner up 3 dalam ajang Duta Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Ryda menceritakan, awal keikutsertaannya dalam pemilihan duta budaya DIY terinspirasi dari wanita lain yang berhasil mengikuti ajang sejenis. Menurutnya, para peserta selain memiliki paras cantik dan pintar, juga berbakat dalam hal public speaking.

Dari sekian banyak ajang duta keistimewaan di DIY, Ryda mengaku memilih duta budaya, lantaran memiliki passion terhadap kebudayaan, serta gemar berwisata. Bahkan, keikutsertaannya dalam ajang itu sudah direncanakan dari jauh hari.

Baca juga:  Berbekal Segudang Prestasi, Mikha Siap Wakili Porda

“Sebenarnya sudah direncanakan sejak awal menjadi mahasiswa. Namun karena terjadi pandemi dan kegiatan lain yang lebih prioritas, sehingga baru bisa terealisasi di 2022 lalu,” terangnya.

Adapun proses seleksi duta budaya DIY dilaksanakan dalam beberapa tahap. Pertama ada focus group discussion (FGD), tes wawancara dan tertulis, untuk dinyatakan lolos sebagai finalis. Kemudian, melakukan karantina setiap Sabtu dan Minggu.

“Kegiatan dalam karantina berupa latihan opening tari, speech dan lain-lain. Selanjutnya, ada deep interview dan malam unjuk bakat, lalu diakhiri dengan puncak penobatan juara,” paparnya.

Baca juga:  Fokus Kembangkan Diri di Bidang Kesehatan

Ryda mengaku sempat merasa insecure, pasalnya finalis lain memiliki bakat yang unik dan beragam. Sehingga ketika dinobatkan sebagai runner up 3, sangat senang dan bersyukur, terlebih prosesnya cukup lama sekitar dua hingga tiga bulan.

“Akhirnya apa yang menjadi usaha dan apa pun yang sudah aku maksimalkan di kompetisi itu tidak sia-sia. Karena hasilnya sesuai dengan harapan,” tuturnya.

Menurutnya ada tantangan tersendiri membawa nama baik sosok duta budaya, yang disematkan pada dirinya. Hal itu sebagai representatif dan role model harus menjadi contoh bagi orang-orang sekitar.

Baca juga:  Elsa Buktikan Organisasi Tak Halangi Prestasi, Raih IPK 3.9 dan Jadi Ketua BEM Fakultas

“Kita harus berperilaku baik, memiliki tata krama baik dan bertutur kata baik. Jika sewaktu-waktu dimintai tanggapan atau semacamnya, sebisa mungkin bagus dan semaksimal mungkin menggunakan bahasa formal,” ujarnya.

Kedepannya, Ryda berharap semakin banyak generasi muda yang mulai sadar akan budayanya dan mau berkontribusi dalam kegiatan budaya itu sendiri. “Semoga semakin banyak hal positif, serta ide kreatif dari anak muda dalam menjaga budaya kita ini. Sehingga tidak terlupakan begitu saja atau diklaim oleh negara lain,” tandasnya.(bam/sam)