Jepara  

Pawiyatan Pranatacara & Pamedharsabda Bregada Kembali Hadir

BERSAMA: Sejumlah Forkopimda, ODP serta Permadani Kabupaten Jepara berfoto bersama usai pelaksanaan acara Pawiyatan Pranatacara & Pamedharsabda Bregada di Pendapa Kartini, Jepara Minggu (18/2/24). (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Setelah vakum hampir 29 tahun, Permadani Kabupaten Jepara menggelar acara Pawiyatan Pranatacara Pamedharsabda Bregada. Agenda ini dilaksanakan di Pendapa Kartini, Minggu (18/2/24).

Penjabat (Pj) Bupati Jepara yang diwakilkan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Muh Eko Udyyono membuka kegiatan dengan pemukulan gong dari Muh Eko Udyyono. Hal ini menjadi simbol bahwa Pamedharsabda Bregada 2 kini telah kembali.

Muh Eko Udyyono menyampaikan, Jepara sangat jauh dari pusat budaya dibandingkan dengan Yogyakarta dan Surakarta. Budaya Jawa mengajarkan akan makna kehidupan. Sehingga, menghidupkan budaya adalah kewajiban bagi masyarakat.

Baca juga:  Jelang Iduladha, DKPP Jepara Gencar Lakukan Pemeriksaan

Ia mengapresiasi, di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan informasi, Permadani mampu menjadi pilar kebudayaan bagi masyarakat Jepara. Sebab, pawiyatan bregada 2 ini akan menjadi tempat untuk belajar bahasa jawa agar pelestarian budaya terus berjalan.

“Tidak hanya belajar, namun punya tekad untuk mempraktekkan. Sehingga tidak hilang, eman jika hal itu terjadi. Karena di pawiyatan ini kita mendapat ilmu dari suhu-suhunya,” tambahnya.

Pelatihan akan berlangsung selama 6 bulan. Setiap Minggu bertempat di aula Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara.

Adapun siswa yang telah mendaftar sebanyak 140 orang. Terdiri dari pegawai, guru, ASN, pejabat, petinggi, dan lainnya. Pemateri akan didatangkan langsung dari DPP, diantaranya DPD Pati 3 orang, DPD Kudus 1 orang, dan dari DPD Jepara 1 orang.

Baca juga:  Satuan Pendidikan Didorong Pahami Penulisan Blangko Ijazah

DPP Permadani, Suka Prayitno menjelaskan, melalui pelatihan ini Permadani ingin membangkitkan kecintaan masyarakat terhadap budaya dan bahasa jawa yang memiliki nilai-nilai adiluhung. “Melalui pelatihan nanti kami berharap minimal siswa dapat menjadi MC atau pranatacara dalam acara yang berbau jawa” ungkaonya.

Pawiyatan ini digelar dalam rangka melanjutkan estafet Permadani yang pernah berdiri di Jepara pada 1995-1996. Menghidupkan kembali menjadi jati diri bangsa serta nguri-nguri babakan budaya jawa dari para leluhur.

“Permadani Jepara yang didukung oleh permadani pusat dalam rangka meningkatkan kembali babakan budaya Jawa dan budaya Jepara. Peninggalan para leluhur, supaya tidak hilang, tetap lestari, dan tidak terpengaruh budaya luar yang tidak tahu mana artinya,” tutup Suka kepada Joglo Jateng. (cr4/fat)