Olah Sampah, Gelontorkan Danais Rp 100 Juta per Kalurahan

Kepala DLH Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto
Kepala DLH Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto. (RIZKY ADRI KURNIADHANI/JOGLO JOGJA)

KOTA, Joglo Jogja– Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta memperoleh Dana Keistimewaan (Danais) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) senilai Rp 100 juta per kalurahan. Nantinya, dana itu digunakan untuk pengolahan sampah organik dari hulu atau rumah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto menekankan, kepada masyarakat untuk bisa mennumbuhkan kesadaran dan kepedulian berperan aktif dalam pengelolaan sampah. Mulai dari paling sederhana yaitu memilah sampah dari sumbernya.

“Pemkot Yogyakarta mencanangkan gerakan olah sampah organik dari rumah bertajuk Organikkan Jogja, Olah Sampah Seko Omah. Hal itu untuk memperkuat pengolahan sampah yang selama ini telah dilakukan,” ungkapnya.

Baca juga:  Promosikan Wisata Heritage di Sleman melalui Prangko Buk Renteng

Pihaknya menambahkan, saat ini persentase sampah di Kota Yogyakarta sekitar 52 persen, dengan dominasi sampah organik. Menurutnya, Gerakan Mbah Dirjo yang telah dilaksanakan mampu mengurangi sampah sekitar 50 ton.

“Sedangkan Gerakan Zero Sampah Anorganik berkurang sekitar 100 ton. Sehingga alokasi Danais Rp 100 juta per kelurahan diharapkan mampu memperkuat pengelolaan sampah,” tambahnya.

Adapun gerakan olah sampah organik menyasar pada peningkatan pelatihan terkait pengolahan kepada masyarakat. Selain itu, mereka akan mendapat sarana dua biopori didahului 12 kali pelatihan di masing-masing kelurahan.

Baca juga:  Buka Pendaftaran, PDI-P Jaring Tokoh Terbaik

“Kita akan perkuat Mbah Dirjo dan Zero Sampah Anorganik dengan lebih detail lagi pada pengelolaan sampah organik,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil II Forum Bank Sampah Kota Yogyakarta Sri Martini menambahkan, akan terus menggencarkan dan mengajak masyarakat melakukan gerakan olah sampah dari rumah. Nantinya, sampah anorganik dibawa ke bank sampah terdekat, sedangkan organik dikelola di rumah tangga masing-masing.

“Metode yang paling sederhana dan secara estetika bagus itu memakai biopori reguler. Saya harap setiap rumah tangga memiliki dua biopori, sehingga kalau satu penuh, tinggal diisi satunya. Itu bisa dimanfaatkan sampai tiga hingga enam bulan dan hasilnya kompos organik,” pungkasnya.(riz/sam)