Sajikan Parade Budaya Lokal di Tradisi Baratan

KREATIF: Para peserta lomba moda transportasi masyarakat Desa Sidorekso, Kaliwungu saat menunjukkan hasil karyanya dalam even Tradisi Bada Baratan di SD 1 Sidorekso, Sabtu (25/2/2024) malam. (UMI ZAKIATUN NAFIS/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Sebanyak 250 karya moda transportasi dan 70 lampion yang dibuat oleh masyarakat Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kudus diarak keliling desa. Kreasi yang diperlombakan ini merupakan bagian dari Tradisi Bada Baratan di malam Nisfu Syaban. Acara yang dimeriahkan ratusan masyarakat Desa Sidorekso ini bertempat di SD 1 Sidorekso, Sabtu (25/02/2024) malam.

Ketua Karang Taruna Desa Sidorekso, Siswanto menjelaskan, tradisi bada baratan diartikan bermain di bawah sinar rembulan dengan keberkahan dari Yang Maha Kuasa. Yang dilaksanakan oleh masyarakat setiap malam Nisfu Syaban.

Selamat Idulfitri 2024

“Sebelum arakan lampion dan karya moda transportasi, masyarakat membaca doa yasin bersama-sama dahulu. Kemudian karya terbaik dinilai oleh juri dan diumumkan pemenangnya,” jelasnya.

Baca juga:  Meriahkan Milad dengan Ngabuburit Sastra

Kepala Desa Sidorekso Kudus Mochammad Arifin menuturkan, tradisi yang pertama kali digelar pada tahun 2014 ini sebenarnya berkiblat dari Kabupaten Jepara. Namun seiring berjalannya waktu, budaya baratan di Sidorekso memiliki ciri khasnya tersendiri.

“Selain meningkatkan kreativitas, even ini juga sebagai usaha melestarikan budaya. Dengan kemasan menarik agar selalu diminati masyarakat,” tuturnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Mutrikah melalui Kasi Destinasi Wisata Disbudpar Kudus, M Aflah, mengapresiasi karya masyarakat Sidorekso yang didominasi pemuda dan anak-anak. Ia berharap gelaran ini bisa meningkatkan kreativitas masyarakat dan tingkat perekonomian melalui produk jual lampion dan moda transportasi

Baca juga:  Polres Kudus Lakukan Sidak Stok BBM

“Kami selalu mendukung upaya pelestarian tradisi ditambah dengan gerakan kreatif oleh generasi muda. Saya rasa masyarakat selalu memunculkan ide baru kreasi hand made yang luar biasa,” ungkapnya.

Pihaknya menambahkan, tradisi baratan bisa menjadi alternative menggembirakan masyarakat untuk menyongsong bulan Ramadan. Menurutnya, tradisi turun temurun ini harus selalu konsisten digelar agar tidak punah

“Pelaksanaan bodo beratan bada baratan menjadi bagian dari tugas adat istiadat yang dibentuk di masing-masing desa. Bahwasanya kearifan lokal di desa harus dikembangkan dan diwariskan nilai-nilainya kepada generasi penerus,” imbuhnya. (cr1/fat)