Penuhi Selera Anak Muda dengan Batik Kontemporer

MEMBATIK: Terlihat karyawan Batik Farras sedang melukis motif batik, Minggu (25/2/24). (JANIKA IRAWAN/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Penuhi selera anak muda, Batik Farras terus mengembangkan model batik kontemporer. Model tersebut merupakan salah satu yang saat ini menjadi tren dan digandrungi kalangan muda.

Anak pemilik Batik Farras, Daery Farras (23) menyampaikan, Batik Farras sendiri sudah berdiri sejak 2006 lalu. Mulanya, usaha dikembangkan di Kabupaten Kulonprogo dan lambat laun dikembangkan sampai ke Kabupaten Bantul.

“Awalnya dulu, ayah saya kerja dibidang batik karena memang di sekitar tempat kami banyak sekali pembatik rumahan dan belum ada industri yang besar. Jadi hal itu yang melatar belakangi untuk memberdayakan masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Baca juga:  Buka Pendaftaran, PDI-P Jaring Tokoh Terbaik

Menurutnya, pada awal-awal berdiri yang diproduksi hanyalah batik dengan motif klasik. Lalu semakin ke sini, perkembangan tren bergeser ke batik kontemporer yang merupakan motif digandrungi kalangan muda.

“Jadi awalnya masih membuat batik-batik model klasik. Tapi semakin ke sini kami mengembangkan batik kontemporer karena ingin memenuhi permintaan pasar,” terangnya.

Menurutnya, batik kontemporer jenis yang memiliki warna lebih cerah dari pada umumnya. Selain itu, model ini juga menerapkan motif yang abstrak sekaligus hanya diproduksi secara terbatas.

“Kami melihat, anak-anak muda sekarang antusiasme cenderung menyenangi batik yang lebih cerah, bermotif cenderung abstrak dan tidak mau sama yang lainnya. Jadi produksinya kami batasi sekitar 20 pcs, agar satu dengan lainnya berbeda. Sekaligus dapat terus membaca perkembangan pasar,” katanya.

Baca juga:  Bawaslu Bantul Libatkan Ormas Cegah Politik Uang

Sementara itu, dalam segi produksi, batik yang mereka buat tidak bisa dihitung per hari melainkan per pekan. “Satu proses batik bisa satu pekan. Kira-kira kalau di total, paling memproduksi 60-70 pcs batik,” ujarnya.

Kemudian, dalam hal pemasaran menurutnya pasar batik cukup luas, akan tetapi pihaknya masih fokus ke pasar Yogyakarta. Meskipun tidak menutup kemungkinan sudah ada beberapa daerah di luar kota, bahkan luar pulau Jawa, seperti Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

“Pelanggan kami yang luar Jawa itu bisanya penjual atau reseller. Untuk harganya sendiri kami jual sangat variatif, mulai dari Rp 100.000-250.000 satu kainnya. Biasanya, yang kencang laku itu di harga Rp 150.000 dengan motif kombinasi cap dan tulis,” pungkasnya.(nik/sam)