Figur  

Devan, Difabel Penyuka Matematika dan IT yang Berprestasi

Devan Daniel Nainggolan
Devan Daniel Nainggolan (15), Siswa Berprestasi Difabel. (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

SEMUA makhluk ciptaan Tuhan pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Tak dipungkiri masih banyak orang yang belum menerima diri sendiri sepenuhnya. Berbeda dengan siswa kelas 1 SMA di PKMB Eagle School, Devan Daniel Nainggolan (15). Remaja penyuka matematika dan IT difabel ini telah meraup banyak prestasi dari umur 4 tahun. Baik di tingkat daerah, nasional, hingga internasional.

Beberapa penghargaan yang berhasil Devan raih antara lain 2023 Singapore Math Challenge (Silver), Olimpiade Rihand Creative ORC (Perak). Kemudian Final Kompetisi Matematika Terbuka 2023 (Emas), dan masih banyak lagi. Ia berhasil merebut medali-medali tersebut meski harus bersaing dengan siswa-siswa terbaik dari sekolah formal.

Selamat Idulfitri 2024

“Sekarang lagi sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti OSN (Olimpiade Sains Nasional, Red.) tingkat kota sebentar lagi. Semoga lolos sampai tingkat nasional,” ucapnya saat ditemui Joglo Jateng, beberapa waktu lalu.

Baca juga:  Fida'ulmu Fidah: Raih Emas Puitisasi Al-Quran dengan Sajak Indah dari Ayat Suci

Dalam hal IT, saat ini dirinya sedang menyukai belajar bahasa pemrograman bernama Python yang umumnya dikuasai oleh mahasiswa jurusan teknik informatika. Walaupun zaman sekarang sudah banyak yang mempelajari itu, namun masih sedikit anak muda yang mendalaminya.

“Dari awal SMP udah suka. Terus tau coding kelas 6 SD akhir. Kadang belajar sama kakak, kadang cari sendiri di internet (otodidak, Red.),” jelasnya.

Di usianya yang kini baru 15 tahun, ia telah membuat lebih dari 10 program website. Setelah lulus sekolah, dirinya ingin melanjutkan perguruan tinggi di Universitas Indonesia (UI) jurusan Teknik Informatika. Devan juga bermimpi untuk bisa bekerja di Google Inc suatu saat nanti.

Baca juga:  Kembangkan Minat Bakat, Banggakan Orang Tua

Sementara itu, Ibu Devan, Sondang Elisabeth bersyukur anaknya memiliki kelebihan yang tidak semua orang miliki. Sebelumnya, dirinya telah lama mengetahui tanda-tanda yang dialami oleh Devan yang dianggap berbeda dari anak sebayanya.

“Saat anak seusianya suka bermain mobil-mobilan dan melihat kartun, Devan malah lebih suka menghafal angka romawi,” kata Sondang.

Di samping itu, dirinya juga merasakan bahwa Devan memiliki kendala pada cara komunikasi dan ekspresi diri. Sempat diduga speech delay (keterlambatan bicara) dan ADHD (attention deficit hyperactivity disorder), namun ahli terakhir menyebut bahwa Devan adalah seorang gifted (anak berbakat)

“Dia (Devan, Red.) umur 4 tahun sudah bisa penjumlahan dua digit. Akhirnya saya ikutkan lomba-lomba di mall-mall. Awalnya biar dia berani tampil, tapi saya terkejut dia suka dan sekarang lari ke programming komputer,” terangnya.

Baca juga:  Hobi Kuliner hingga Buat Konten Bantu UMKM

Memasuki usia pendidikan, tak mudah bagi Devan untuk melewati masa-masa sekolah dasar (SD). Saat itu, dirinya tak begitu mengetahui banyak informasi sehingga Sondang memasukkan Devan di sekolah formal.

Selama bersekolah di sana, Devan malah menjadi korban perundungan oleh teman-teman sekelasnya. Sehingga, setelah lulus dari SD, Sondang langsung menyekolahkan Devan ke PKMB Eagle School.

“Akhirnya abis lulus SD, pindah SMP ke sini. Di sini teman-teman Devan tau Devan ada kelebihan dan kekurangan. Jadi mereka mau menemani dan men-support Devan,” kata Sondang. (int/adf)