Budidaya Nila dengan Kincir Diklaim Tingkatkan Produktivitas

SEREMONIAL: Pemkab Sleman saat mencanangkan Kawasan Mina Wisata Sibudi Dikucir di Dusun Garongan, Wonokerto, Turi, Sleman, beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA/JOGLO JOGJA)

SLEMAN, Joglo Jogja – Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman mengklaim inovasi teknologi budidaya ikan nila dengan kincir mampu meningkatkan produktivitas sektor perikanan di Bumi Sembada. Bahkan, peningkatannya mencapai empat kali lipat dibandingkan dengan sistem budidaya semi intensif.

Kepala DP3 Sleman Suparmono mengatakan, inovasi Sistem Budidaya Nila dengan Kincir Air (Sibudi Dikucir) mulai dirintis pada 2016 lalu dan mulai dilirik oleh para pembudidaya yang bergerak di bidang pembesaran. Hal itu dikarenakan inovasi tersebut diklaim dapat meningkatkan produktivitas ikan nila sampai empat kali lipat.

Selamat Idulfitri 2024

Suparmono menyebut, pada November 2023, pihaknya telah menerapkan inovasi Sibudi Dikucir pada Kelompok Mina Makmur Kedungprahu. Kelompok pembudidaya ikan nila di Kalurahan Sendangrejo, Minggir itu mendapatkan sarana prasarana berupa benih nila 109 kilogram, pelet 41 zak, kincir 1 PK satu unit, dan genset 1 unit.

Baca juga:  Merapi Muntahkan 1.700 Meter Guguran Awan Panas

“Berdasarkan hasil akhir dari kegiatan selama 105 hari atau tiga bulan pemeliharaan mencapai 1,05 ton ikan nila. Dari capaian tersebut, pembudidaya dapat menjual hasil panennya sebesar Rp25.500/kilogram. Sehingga mendapatkan hasil Rp26.7 juta. Dari total biaya produksi mencapai Rp20.198.000, pembudidaya mendapatkan keuntungan sebesar Rp6.577.000,” terangnya, Kamis (29/2/24)

Dikatakan bahwa secara prinsip, Sibudi Dikucir mampu meningkatkan produktivitas kolam menjadi 8 sampai 10 kilogram/m²/panen. Peningkatan produksi itu diperoleh dari penambahan padat tebar benih nila pada hitungan 40 ekor/m².

Pasalnya, selama proses produksi pada kurun waktu 3-4 bulan, pakan yang diberikan sebanyak 3-5 persen dari berat bibit. Sementara kandungan nutrisi protein pada pakan harus di atas 30 persen.

Baca juga:  Liburan Lebaran Padat, Volume Kendaraan di Yogyakarta Melonjak 23%!

“Untuk panen, satu kilogram ikan nila siap konsumsi terdiri empat sampai enam ekor dan bisa dipanen secara parsial sesuai dengan permintaan pasar. Peningkatan produktivitas itu didukung oleh kualitas media air kolam yang sesuai untuk pertumbuhan, meskipun dengan kepadatan tinggi,” jelasnya.

Sementara itu, Anggota Kelompok Pembudidaya Ikan (KPI) Mina Taruna Turi Wahyu Hidayat mengakui, sistem budidaya ikan nila dengan sistem kincir memang memiliki sisi positif. Adanya gemercik dari motor kincir dapat menambah pasokan oksigen dalam kolam.

Menurutnya, hal itu dapat mengurangi kematian ikan, khususnya pada jenis nila. Sehingga, produktivitas hasil panen pun dapat optimal dan kerugian pembudidaya bisa ditekan. “Dengan sistem kincir, panen kami di musim kemarau maupun penghujan bisa stabil,” ungkapnya. (bam/abd)