Dewan Menilai Dugderan sebagai Prosesi Sakral

BERBUDAYA: Sejumlah penari tampil dalam acara pembukaan Dugderan 2023 di Halaman Balai Kota Semarang. (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Sekretaris Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang, Anang Budi Utomo menilai, tradisi Dugderan merupakan prosesi sakral yang sudah ada sejak dulu. Gelaran yang menghadirkan bedug raksasa dan gunungan roti ganjel rel ini menambah kesan kesan semarak dalam menyambut datangnya bulan Ramadan.

“Saya termasuk orang yang meminta Dugderan harus bersifat sakral. Sebaiknya jangan dicampur dengan apresiasi lain yang mengarah sifatnya hura-hura. Senangnya itu dalam konteks menyeluruh etnis yang ada di Kota Semarang,” ucapnya saat dikonfirmasi Joglo Jateng, belum lama ini.

Selamat Idulfitri 2024

Dugderan sendiri merupakan tradisi rutin tahunan yang diselenggarakan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang guna mengumumkan awal puasa Ramadan. Selain prosesi pemukulan bedug, juga ada Pasar Dugderan yang dapat memupuk perekonomian Ibu Kota Jawa Tengah.

Baca juga:  Pramuka tak Lagi Diwajibkan, Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang: Bisa Pengaruhi Kualitas Mental Anak

Nantinya, kata dia, Dugderan kali ini akan ditandai pula dengan kirab budaya dari Balai Kota Semarang hingga Aloon-aloon Masjid Agung Semarang. Ini sekaligus menjadi upaya untuk mengenalkan budaya.

Terpisah, Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu menyebut, prosesi Dugderan kali ini akan diselenggarakan dua hari menjelang Ramadan. Dalam prosesi halaqah, dia berharap bisa ditata lebih tertib dan bagus. Sehingga Dugderan bisa menjadi tontonan tahunan yang ditunggu-tunggu masyarakat.

“Apalagi penyerahan roti ganjel rel. Saya ingin di tengah lapangan, ada bedug yang gede. Ini menunjukkan kekayaan budaya Kota Semarang yang harus dilestarikan,” ujarnya. (int/adf)