Jepara  

Eksis sejak 1994, Pengrajin Mainan Anak Tradisional Ini Raup Omzet hingga Puluhan Juta Perbulan

TELATEN: Seorang pengrajin tengah merakit mainan tradisional di sentra mainan anak tradisional Desa Karanganyar Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, belum lama ini. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

KERAJINAN mainan anak tradisional masih terus berkembang di Desa Karanganyar Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara. Mainan jenis kitiran berbahan kertas, plastik, spon, serta evamet ini pun telah merambah ke berbagai pasar luar Jawa.

Desa Karanganyar yang berbatasan dengan Kabupaten Demak terpisah oleh sungai ini memang menjadi sentra mainan anak tradisional. Mayoritas warganya merupakan pengrajin mainan.

Selamat Idulfitri 2024

Salah satu pengrajin yang masih terus bertahan hingga sekarang adalah Sunadi. Dirinya mengaku bisnis yang ia geluti sudah sejak 1994 ini laris dan eksis hingga sekarang.

“Alhamdulillah dari dulu sampai sekarang penjualan masih terbilang lancar. Paling kalau sepi itu satu sampai dua bulan aja pas waktu musim hujan. Itu memang agak sepi pembeli,” ungkapnya kepada Joglo Jateng, Kamis (29/2/24).

Baca juga:  Pemkab Jepara Kembali Gencarkan Operasi Pasar Murah

Penjualannya sempat dipasarkan hingga ke berbagai negara. Seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura. Namun, karena terdapat hambatan pemasaran, penjualan produk difokuskan di dalam negeri. Yang terjauh sampai ke Papua, Kalimantan, Sumatera, dan Aceh.

“Penjualan ke seluruh Indonesia. Di antaranya luar pulau Jawa. Pemesanan biasanya lewat online. Bahkan dulu sampai ke Malaysia, Thailand, sama Singapura. Tapi sekarang udah nggak impor lagi, hanya di luar Jawa saja,” jelasnya.

Harganya pun cukup terjangkau, mulai dari Rp 3 ribu hingga Rp 6 ribu. Menyesuaikan jenis mainan yang dijual. Ada kitiran, othok-othok, miniatur bus, sorongan ayam, kepiting, dan berbagai macam bentuk hewan lainnya.

Baca juga:  Tingkatkan Kreatifitas UMKM Melalui Branding

Sebagai Ketua Pengrajin di Desa Karanganyar, rumahnya sering dijadikan sebagai tempat pelatihan pembuatan mainan tradisional bagi anak sekolah. Baik sekedar melihat cara pembuatan sampai pada praktiknya.

“Anak-anak sekolah biasanya sering latihan di sini, dari TK (taman kanak-kanak, Red.) hingga SMP (sekolah menengah pertama, Red.). Hal itu memang dilakukan sebagai pengenalan produk bisnis dari Desa Karanganyar,” tambahnya.

Dalam satu hari rumah usahanya dapat memproduksi 1000 buah mainan. Keuntungan yang diraup dalam satu bulan hampir mencapai Rp 20 juta.

Adapun motivasinya menjadi pengrajin hingga sekarang, sebab ingin melestarikan mainan tradisional. Walaupun zaman yang kian modern, tak menyurutkan dirinya untuk tetap eksis menjadi pengrajin mainan tradisional.

Baca juga:  Musrenbang 2024, Bappeda Jateng Apresiasi Pertumbuhan Ekonomi Jepara

“Kalau mau nurutin mainan modern alatnya tidak menjangkau dan kalau beli pun harus punya modal besar. Mainan tradisional jangan sampai punah, dan harus dilanjutkan,” pungkasnya. (cr4/adf)