Jepara  

Jepara Darurat DBD, 15 Orang Meninggal

PERIKSA: Pasien Demam Berdarah Dangue (DBD) tengah menjalani rawat inap di rumah sakit Jepara, Kamis (29/2/24). (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Seiring melonjaknya angka kasus Demam Berdarah Dangue (DBD), pemerintah Kabupaten Jepara telah menetapkan status tanggap darurat DBD per 23 Februari. Hingga kini kasus DBD terus bertambah. Bahkan, kini sebanyak 15 orang meninggal dunia.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara, tercatat mulai 1 Januari hingga 29 Februari, jumlah Kewaspadaan Dini Rumah Sakit (KDRS) sebanyak 824. Dengan rincian, kasus 120 orang, tersangka 689 orang, dan yang meninggal dunia 15 orang.

Selamat Idulfitri 2024

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P3) sekaligus Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinkes Kabupaten Jepara Eko Cahyo Puspeno menyampaikan, rentan empat hari terakhir sejak 25 Februari, angka kasus DBD bertambah 50 oarang, tersangka 218 orang, 3 pasien meninggal dunia, dan KDRS sebanyak 271.

Baca juga:  DKPP Jepara Deteksi Dini Kondisi Hewan Ternak

“Mudah-mudahan segera terkendali. Itu sebabnya kami meminta kesadaran masyarakat untuk turut melakukan pencegahan karena kuncinya di situ (kesadaran), juga tiap rumah harus ada Jumantik (Juru pemantau jentik),” katanya, Kamis (29/2/24).

Saat ini, kata Eko, seluruh fasilitas kesehatan telah siaga dalam penanganan pasien DB. Bahkan, seluruh RS di Kabupaten Jepara sudah mengoptimalkan pelayanan dengan menambah bed atau tempat tidur pasien (bangsal).

Ia mengimbau agar masyarakat memahami tanda dan gejala-gejala DBD. Yakni ketika mengalami panas tinggi atau naik turun selama kurang lebih sepekan, ketika muncul keringat dingin, muntah terus menerus, nafsu makan berkurang atau pendarahan, lemas, dan sesak.

Baca juga:  Sasaran TTMD Desa Bakalan Tuntas 100 Persen

“Kalau seperti ini, merupakan tanda bahaya. Maka harus segera dirawat di rumah sakit. Ini yang disebut masa kritis. Terutama ketika panasnya sudah turun, kalau tidak memahami ini justru dikira sembuh,” pungkas Eko.

Sementara itu, Direktur RSUD Kartini Jepara Tri Iriantiwi melalui Ketua Bagian Hukum Pemasaran dan Pelaporan Agus Carda menjelaskan, sampai saat ini terdapat 99 pasien DBD yang dirawat di RSUD Kartini Jepara. Mayoritas pasien berangkat dari anak-anak dengan jumlah 68 pasien. Lalu, 31 pasien dari kalangan dewasa.

Pihaknya telah melakukan penambahan tempat tidur bagi pasien yang menghendaki rawat inap. Mulanya berjumlah 386 kini bertambah menjadi 425 tempat tidur.

Baca juga:  Laporan Tingkat Pengangguran di Jepara Sepanjang 2023 Turun

Pihaknya berharap agar seluruh masyarakat Jepara mampu mengupayakan penanganan dan pemberantasan sarang nyamuk. Dengan cara gerakan 3M, yaitu Menguras, Menutup, dan Mengubur. Selain itu, membersihkan lingkungan, halaman, dan selokan menjadi upaya dalam mengurangi potensi gigitan nyamuk.

“Kami sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat umum terkait langkah-langkah pencegahan DBD melalui media rumah sakit,” ucapnya. (cr4/map/gih)