Disdik Kota Semarang Minta Sekolah Bangun Sarpras untuk Difabel

Kepala Disdik Kota Semarang, Bambang Pramusinto
Kepala Disdik Kota Semarang, Bambang Pramusinto. (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang terus mengarahkan semua pihak sekolah agar membangun sarana prasarana untuk peserta didik difabel, khususnya tuna daksa. Nantinya, akan ada jalur ‘luncuran’ yang dikhususkan untuk anak yang memakai kursi roda di lingkup sekolah.

Kepala Disdik Kota Semarang, Bambang Pramusinto mengungkapkan, setiap tahun pihaknya bisa mengeluarkan anggaran untuk penambahan fasilitas sarana prasarana di masing-masing sekolah. Pengadaan fasilitas tersebut sebelumnya diusulkan melalui musyawarah rencana pembangunan (musrenbang).

Selamat Idulfitri 2024

“Sapras itu selain untuk pengamanan peserta didik juga diarahkan menjadi sekolah yang ramah anak difabel. Harapan kami pembangunan itu bisa menjadikan sekolah tersebut ramah inklusi,” ucapnya saat dikonfirmasi Joglo Jateng, Senin (4/3/24).

Baca juga:  4 Tempat Hiburan di Semarang Disegel Satpol PP

Terlebih lagi, kata dia, tahun ini pihaknya memiliki Unit Layanan Disabilitas (ULD) yang bertransformasi dari Rumah Duta Revolusi Mental (RDRM). Sehingga sekolah yang mempunyai siswa anak berkebutuhan khusus (ABK) akan memiliki mitra terkait penanganan secara mental.

“Alhamdulillah perwal (peraturan wali kota, Red.) sudah ditandatangani Bu Wali. Tinggal kita yang mengimplementasikan peraturan itu nanti,” jelas Bambang.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, orang tua murid inklusi tidak perlu khawatir dengan potensi adanya tindakan bullying. Sebab, setiap bulan Disdik akan melakukan pertemuan dengan kepala sekolah dalam hal pencegahan dan penanggulangan bullying.

“Kami juga keliling (ke setiap sekolah, Red.) melalui Apel Pagi ke pelajar untuk tidak melakukan bullying. Selalu saya tanyakan dan edukasi kepada mereka agar ejekan ini tidak menjadi kebiasaan,” ungkapnya.

Baca juga:  Jelang Idulfitri, Satpol PP dan Dinsos Kota Semarang Tertibkan PGOT

Lebih lanjut, ia menuturkan, tiap sekolah sudah mempunyai inovasi kampanye dan program anti bullying. Sehingga jika ada anak yang berpotensi terkena bullying, mereka bisa melaporkannya melalui program yang dibuat oleh pihak sekolah.

Selain itu, Disdik juga berkolaborasi dengan Polrestabes Semarang dengan memanfaatkan aplikasi LIBAS. Jika ada anak yang terkena bullying, maka pihak kepolisian akan bergerak.

“Hampir semua sekolah sudah men-download,” kata Bambang. (int/adf)