Pati  

Akademisi Soroti Parkir di Kota Pati yang Semakin Semrawut

KONDISI: Salah satu ruas jalan di Kota Pati yang macet akibat parkir semerawut, belum lama ini. (LUTHFI MAJID/JOGLO JATENG)

PATI, Joglo Jateng – Persoalan parkir di Kota Pati hingga kini tak kunjung terselesaikan. Bahkan, semakin berjalannya waktu parkir di Kota berjuluk Bumi Mina Tani ini semakin semrawut.

Hal ini pun mendapatkan sorotan dari Akademisi Sekolah Tinggi Menajemen Informatika dan Komunikasi (STMIK AKI) Pati, Adhi Priyanto. Menurut dia, semrawutnya parkir di kota tersebut diakibatkan beberapa faktor. Salah satunya bertambahnya tempat usaha.

Selamat Idulfitri 2024

“Tanpa lahan parkir pasti jadi awal lalu lintas macet. Karena ruas jalan yang semula hunian berubah jadi tempat usaha seperti konter, toko, resto, cafe dan PKL,” ujar dia, Selasa (5/3/24).

Baca juga:  Kunjungi Korban Banjir di Pati, Begini Kata Kepala BNPB

Kondisi ini menurutnya diperparah dengan ruas jalan sempit yang tidak mungkin diperlebar lagi. Sehingga hal tersebut yang menjadi sumber dan akar permasalahan parkir yang semakin tak tertata.

“Jalan tidak mungkin dilebarkan karena sudah mulai merata di beberapa tempat ruas jalan di kota. Sedangkan izin usaha diberikan tanpa persyaratan ketersediaan lahan parkir yang tidak menggunakan jalan dan fasilitas umum,” ucapnya.

Ia memberikan contoh sejumlah ruas jalan yang sering macet karena bertambahnya tempat usaha. Di antaranya ruas jalan Gowangsan ke barat, SMP 8 dan Penjawi.

Baca juga:  Warga Desa Wonosekar Arak Seribu Ketupat

Adhi menilai masalah ini dapat bisa teratasi jika peraturan yang ada dilaksanakan. Yakni memberikan izin usaha bila memiliki lahan untuk parkir.

“Solusinya berhubungan atau mencermati Perda. Ijin usaha wajib menyediakan minimal luas area parkir sesuai jenis usaha kapasitas daya tampung pelanggannya dan tidak menggunakan trotoar dan jalan sebagai tempat parkir,” jelasnya.

Selain itu, Adhi juga menyoroti aturan Dinas Perhubungan (Dishub) Pati mengenai parkir dari 2 arah. Pasalnya lebar jalan yang digunakan untuk parkir 2 arah tak sesuai.

“Kalau lebar jalan kurang harus ada rambu 1 arah sebelah barat atau timur saja utara atau selatan saja. Bila parkir sudah 1 jalur saja kembali ke petugasnya. Pengalaman ada rambu tapu petugas parkirnya mengarahkan sering ada rambu larangan petugas parkir mengabaikan entah petugas resmi atau bukan,” pungkasnya. (lut/fat)