Jepara  

Kasus DBD Jepara Meningkat Signifikan, Tertinggi ke-5 Nasional

Pelaksana harian (Plh) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara Eko Cahyo Puspeno.
Pelaksana harian (Plh) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara Eko Cahyo Puspeno. (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Dalam waktu singkat, peningkatan kasus DBD di Kabupaten Jepara naik signifikan. Bahkan fenomena DBD daerah ini menduduki peringkat ke-5 tingkat nasional.

Hal itu disampaikan oleh Eko Cahyo Puspeno selaku Pelaksana Harian (Plh) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara. Bahwasannya berdasarkan DBD elektronik, mulai dari 1 Januari – 4 Maret terdapat 145 kasus. Lalu jumlah tersangka DBD 821. Dan 17 kasus DBD meninggal dunia, 14 diantaranya menimpa pada anak-anak, sedangkan 3 pada dewasa.

Selamat Idulfitri 2024

Tren kasus DBD ini disinyalir siklus lima tahunan. Sebelumnya, pada 2019 Jepara menjadi fokus nasional penanganan DBD. Lalu, faktor lainnya pun juga turut mendukung. Seperti trias epidemiologi. Sisi lingkungan (Hujan-panas dan elnino), kepanikan atau kecemasan masyarakat dalam menyikapi, serta siklus lima tahunan.

Baca juga:  Tingkatkan Kreatifitas UMKM Melalui Branding

“Pada 2014 juga tinggi. Namun tahun ini tidak seperti 2023, yang angka kematiannya hanya 5 orang,” paparnya.

Kemudian, tingkat persebaran DBD tertinggi ada di lima desa. Yakni di Desa Troso, Bugel, Pecangaan, Kedung, Kalinyamat, Mlonggo, dan Jepara Kota.

Menindak lanjuti kondisi tersebut, Kementrian Kesehatan (Kemenkes) harus turun tangan. Balai besar laboratorium milik Kemenkes yang ada di Kabupaten Bojonegoro akan mengambil serotipe virus atau sampel darah pasien positif DBD di Jepara.

“Nanti akan diambil sampel darah pasien DBD, dari enam rumah sakit yang ada di Jepara untuk diteliti,” jelas Eko.

Baca juga:  DKPP Jepara Deteksi Dini Kondisi Hewan Ternak

Tak hanya itu, lanjutnya, tim akan melakukan penelitian pada vektor atau hewan perantara DBD, meneliti jentik nyamuk, dan meneliti resistensi insektisida. Kemudian, menggali apakah nyamuk di Jepara sudah kebal dengan insektisida yang digunakan untuk fogging atau tidak.

Adapun alasan Kemenkes melakukan penelitian. Lantaran penyebaran kasus DBD di Jepara sudah pada tanggap darurat.

“Ini merupakan kesempatan yang baik. Sebab kabupaten Jepara satu-satunya yang diteliti langsung oleh Kemenkes. Karena tidak semua kota maupun kabupaten dilakukan penelitian,” pungkasnya kepada Joglo Jateng. (cr4/fat)