Batang  

Pemkab Batang Terima Sertifikat Eradikasi Frambusia dari Menteri Kesehatan

TERIMA: Pj Bupati Batang Lani Dwi Rejeki saat menerima penghargaan sebagai daerah bebas dari frambusia di Jakarta, beberapa waktu lalu. (HUMAS/JOGLO JATENG)

BATANG, Joglo Jateng – Pemerintah Kabupaten Batang baru saja meraih sebuah pencapaian penghargaan yang patut dibanggakan, yakni sebagai daerah bebas dari Frambusia. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Penjabat (Pj) Bupati Batang Lani Dwi Rejeki mengatakan, kerja sama lintas sektor menjadi kunci kesuksesan. Tahapan yang melibatkan promotif, surveilans dan pembuktian telah dilakukan dengan tekun. Jajaran Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang berperan aktif dalam melakukan screening di sekolah-sekolah.

Selamat Idulfitri 2024

“Sertifikat ini diberikan karena prevalensi frambusia di Batang dinyatakan nol kasus. Selain itu, telah memenuhi kriteria pemberantasannya. Prestasi ini merupakan hasil kerja keras jajaran Dinkes Batang dan stakeholder yang telah secara intensif melakukan screening di sekolah-sekolah dan lainnya,” jelasnya.

Baca juga:  Batang Tetapkan Tujuh Ranperda Baru

Sementara itu, Kepala Dinkes Batang Didiet Wisnuhardanto menjelaskan, frambusia adalah penyakit kulit menular yang kambuh secara menahun. Penyebabnya kuman Treponema Perteneu, yang menyebabkan infeksi pada kulit.

Pihaknya secara intesif dan berkala melakukan screening dan pembagian obat cacing untuk anak-anak. Jika ada anak yang memiliki koreng atau luka pada kulit, mereka akan menjalani rapid test untuk memastikan apakah positif terkena atau tidak.

“Kami menegaskan, jika ditemukan kasus, perawatan dan pengobatan secara intensif, akan diberikan melalui fasilitas layanan kesehatan yang ada. Namun, selama ini di Batang belum ada kasus. Jadi kalau ada satu langsung kami tangani secara intensif,” ujarnya.

Baca juga:  Pengelolaan Baru, BTP Batang Tawarkan Fasilitas Mumpuni

Dengan demikian, pihaknya meminta masyarakat untuk menjaga kebiasaan hidup bersih dan sehat dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), sesuai faktor risiko penularan. “Selain itu, melakukan surveilans aktif atau deteksi dini dalam menurunkan risiko penularan. Kemudian, sanitasi dan open defection free harus dilaksanakan baik,” tandasnya.(hms/sam)