253 BUMDes di Rembang dalam Tahap Berkembang

WISATA: Salah seorang pengendara melintas di depan pintu masuk BUMDes Desa Balongmulyo, Kecamatan Kragan, beberapa waktu lalu. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

REMBANG, Joglo Jateng – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinpermades) Rembang mencatat ada 253 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dari 287 desa. Rata-rata usaha yang dimiliki ditingkat berkembang senilai 75-85 persen.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Rembang, Slamet Hariyanto mengatakan, dalam membuat BUMDes harus memperhatikan beberapa pertimbangan. Diantaranya seperti memiliki potensi yang bisa dikembangkan. Kemudian, tidak boleh mematikan usaha milik warga yang sudah jalan atau warga tidak merasa dirugikan.

Selamat Idulfitri 2024

“Artinya, BUMDes tidak boleh membunuh usaha yang ada di masyarakat. Tapi kalau bisa mengembangkan usaha baru. Sehingga dapat bermanfaat untuk orang-orang sekitar. Bahkan mampu memberikan pendapatan asli desa (PAD) kepada desa,” ucapnya.

Baca juga:  Wajib Pajak Diminta Laporkan SPT Tahunan Sebelum 31 Maret

Sementara itu, Kepada Bidang (Kabid) Pemberdayaan Lembaga Kemasyarakatan, Siti Kasmirah menyampaikan, setiap tahun pihaknya memberikan pembinaan kepada desa supaya menggali potensi yang ada didesa untuk mendirikan BUMDes. Dalam kaitannya mendapatkan sumber penghasilan PAD.

“Kalau yang mendapatkan penghasilan sudah banyak. Tetapi masih banyak desa yang hidup enggan mati tak mau. Artinya, tidak mau berusaha dan berkembang. Ada yang sudah memberikan PAD paling tinggi 100 juta dari Desa Punjulharjo karena BUMDesnya sudah maju,” ujarnya.

Diharapkan sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMD) Kabupaten Rembang. Untuk menuju kemandirian desa maka dituntut sesuai dengan Rencana Strategis (Renstra) di Permades.

Baca juga:  Kampung Ramadan Rembang Buka Akses Jalan: Menarik Pengunjung, Dorong Ekonomi dan Edukasi UMKM

“Setiap tahun desa wajib setor PAD lewat BUMDes dan pasar desa. Bisa juga lewat lelang bondo deso. Semakin BUMDesnya berkembang. Semakin maju pula desanya,” ucap Siti.

Kendala yang terjadi saat mengelola BUMDes karena dari pengurusnya. Ada yang mengelola, terus keluar kota. Biasanya orang yang sudah merasa mampu tidak mau mengelola desanya. Justru banyak yang merantau.

“Pengurus harus orang yang peduli, jujur dan mau berinovasi. Kalau tidak memiliki pandangan yang luas maka kedepannya tidak akan berkembang lebih baik. Karena BUMDes tidak dilihat dari segi ekonominya saja. Tetapi dilihat dari segi sosialnya juga,” tuturnya. (cr3/fat)