Pati  

Kebanjiran, Petani di Lereng Kendeng Gagal Panen

KONDISI: Tanaman milik petani di Desa Gadudero kebanjiran, Rabu (13/3/24). (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

PATI, Joglo Jateng – Lahan persawahan di Desa Gadudero, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati terendam banjir. Akibatnya, banyak tanaman milik petani di desa yang berada di lereng Pegunungan Kendeng itu mengalami gagal panen.

Kondisi ini seperti yang dirasakan oleh Rinto Prabowo (40), Dukuh Poncomulyo, Gadudero ini. Tanaman melon miliknya sudah tidak bisa dipanen karena sudah terendam banjir.

Selamat Idulfitri 2024

“Padahal melonnya beratnya sudah 1 kilogram. Target panen itu pertengahan puasa nanti. Tapi ini kebanjiran,” ucapnya, Rabu (13/3/24).

Akibat tanamannya kebanjiran, Rinto berpotensi kehilangan puluhan juta rupiah. Pasalnya, awal tanam saja, ia sudah mengeluarkan biaya sebesar Rp 25 juta.

Baca juga:  Jalan Alternatif Pati-Winong Diperbaiki Mei

Modal itu ia gunakan untuk menggarap sawahnya dengan luas seperempat hektar. Terlebih, Rinto sudah berharap hasil panen melonnya bisa melimpah saat datangnya Ramadan.

“Kalau saya hitung, tanaman seperempat hektar itu bisa laku Rp 50 sampai 60 juta dengan melihat momen puasa seperti ini. Tapi ini melonnya sudah tidak di ambil lagi. Modal Rp 25 juta hilang begitu saja. Apalagi ini sudah hujan terus,” keluhnya.

Ia pun hanya bisa pasrah karena sudah tidak bisa menyelamatkan tanaman melon miliknya. Apalagi kondisi ini juga dirasakan sebagian besar petani di desanya.

Baca juga:  Ali Geram Ada Mitos Pejabat Pusat Takut ke Pati

“Kalau mau diselamatkan bisa, tapi biayanya sangat mahal. Apalagi hampir semua lahan pertanian di Gadudero terendam banjir. Itu ada yang nanam melon, ada juga padi,” bebernya.

Kondisi ini, lanjut dia, juga tidak hanya terjadi pada tahun ini saja. Hampir setiap musim hujan petani di desanya mengalami gagal panen akibat kiriman air dari Pegunungan Kendeng.

“Wilayah kami ini cekungan. Dari Kendeng kalau hujannya lebat, air mengumpul di sini. Desa sini paling rendah di bandingkan desa lainnya,” pungkasnya. (lut/fat)