Menyikapi Salat Tarawih dengan Kecepatan 5G

Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Ulum Wal Ma’arif, Rejosari, Dawe, Kudus Kiai Ahmad Subhan.
Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Ulum Wal Ma’arif, Rejosari, Dawe, Kudus Kiai Ahmad Subhan. (UMI ZAKIATUN NAFIS/JOGLO JATENG)

SALAT tarawih menjadi salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam ketika Ramadan. Salat yang dilakukan isya hingga sebelum subuh ini memiliki banyak keutamaan dan manfaat. Akan tetapi ada beberapa orang yang melaksanakan salat tarawih dengan cara yang sangat cepat, baik sebagai imam maupun makmum.

Fenomena bergegas menyelesaikan salat tarawih dengan jumlah rakaat yang banyak tetapi dengan bacaan Al-Quran yang pendek-pendek dan gerakan yang tidak thuma’ninah ini menimbulkan berbagai pertanyaan. Seperti bolehkah melaksanakan shalat tarawih secara cepat itu sah dan berpahala dan pandangan Islam tentang shalat tarawih yang cepat.

Selamat Idulfitri 2024

Menanggapi hal itu, Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Ulum Wal Ma’arif, Kiai Ahmad Subhan, menerangkan, tarawih yang ideal yaitu sesuai dengan kemufakatan ulama. Yang mana tujuan tarawih merupakan untuk menghidupkan malam Ramadan. Sesuai dengan hadis Nabi :

Baca juga:  Terinspirasi Usai Pulang Umrah, Bangun Masjid Berbentuk Ka'bah

ومن قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

Artinya : Siapa yang melakukan qiyam di bulan Ramadan karena motivasi iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Kiai Subhan mejelaskan, ulama mufakat, bahwa tarawih hukumnya sunnah dan hitungannya berjumlah 20 rakaat ditambah shalat witir 3 rakaat. Dan yang paling baik melakukan tarawih yaitu dengan bacaan 30 juz Al Qur’an. Dengan rincian, tiap malamnya membacakan satu juz.

“Artinya rata-rata mushaf memiliki 20 halaman per juznya. Maka setiap satu rakaat bisa dibacakan satu halaman Al Qur’an,” jelas Subhan.

Akan tetapi, lanjut Subhan, salat tarawih dengan praktik seperti itu hanya bisa dilaksanakan dengan makmum tertentu. Sebab dikhawatirkan jika durasi salat terlalu lama, makmum akan bosan dan tidak khusyu.

“Imam harus memahami kondisi makmum di lingkungan tersebut. Jika lingkungan tersebut banyak orang bekerja keras bisa bosan. Maka imam bisa mengambil sunah dan rukun penting dalam salat agar tidak mengurangi kekhusyuan,” imbuhnya.

Baca juga:  Nikmati Suasana Puasa di Kebun Dakwah Sorustan

Subhan menambahkan, salat terlalu cepat juga tidak baik sebab termasuk kategori bid’ah. Apalagi jika sampai mengurangi thuma’ninah. Maka, kata dia, bacaan salat akan lebih baik jika dibaca dengan santai dan bijaksana dengan catatan tetap menjaga rukun salat.

“Tujuan kita ibadah karena Allah dan untuk diri kita sendiri. Maka jika ikhlas dan santai serta menikmati pahalanya akan berlipat. Daripada shalat dengan durasi panjang tetapi pikirannya ke mana-mana, maka lebih baik ideal sesuai dengan apa yang dibaca,” bebernya.

Demikian itu juga disampaikan Pengasuh Pondok Raden Umar Said Colo, KH Salman Kholil. Untuk menilai salat tarawih dengan durasi cepat pihaknya tidak bisa menyalahkan. Akan tetapi menurut aturan syara’, baik itu syarat, rukun dan sebagainya dalam salat salah satu rukun wajibnya adalah thuma’ninah.

Tuma’ninah artinya diam atau tenang. Adapun tuma’ninah dalam salat yaitu diam, tenang atau menghentikan seluruh gerakan tubuh yang lamanya minimal seukuran mambaca subhanallah sebanyak satu kali,” jelasnya.

Baca juga:  Lezatnya Coro Santan dan Ketan Biru di Pasar Kuliner Kauman

Oleh karena itu, lanjut Salman, jika ingin melamakan thuma’ninah tergantung dari masing-masing orang. Jika tiga ataupun 4 detik gerakan shalat sudah memuat bacaan subhanallah maka shalat telah sah.

“Jadi kalaupun shalat itu cepat tidak apa-apa asal tetap dalam koridor thuma’ninah. Jadi cepat ataupun lambat jika tidak ada thuma’ninah pun salat tidak akan sah,” imbuhnya.

Selain thuma’ninah dalam shalat terdapat syarat dan rukun yang harus ditepati. Maka, sebagai salah satu amalan mulia, dalam shalat yang menghadap Allah WST harus hati-hati. (cr1/fat)