Masjid Pathok Negoro Plosokuning: Cagar Budaya dengan Nuansa Tradisional yang Kental dan Konsisten Bersyiar dengan Kitab Kuning

TENTRAM: Suasana masyarakat daerah usai menjalankan ibadah salat dzuhur di Masjid Pathok Negoro Plosokuning, Rabu (20/3/24). (ADIT BAMBANG SETYAWAN/JOGLO JOGJA)

BERBICARA mengenai Yogyakarta, tentu tak bisa berhenti di wisata alam dan kulinernya saja. Nyatanya, terdapat banyak wisata religi, salah satunya adalah masjid, tempat peribadatan orang Islam. Masjid Pathok Negoro Plosokuning misalnya. Bertempat di Jalan Plosokuning Raya 99, Minomartani, Ngaglik, Sleman, masjid ini adalah masjid yang memiliki banyak nilai historis di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Masjid yang dibangun sekitar tahun 1757-1758 setelah peristiwa Perjanjian Giyanti, yang berdiri di atas tanah kasultanan seluas 2.500 meter persegi dengan luas bangunan 328 meter persegi itu, hingga kini masih berdiri kokoh. Saking lamanya, tak ayal masjid itu memiliki ciri khas tersendiri.

Selamat Idulfitri 2024

Pada sisi selatan timur dan depan timur masjid, ada gapura yang unik bernuansa keraton. Ada pula pohon sawo kecik di halaman masjid. Tak kalah menarik, ada kolam yang mengelilingi masjid, serta serambi masjid yang berbentuk limasan dan ada beduk yang ditempatkan di sisi selatan serambi. Pasalnya, beduk itu akan dipukul sebagai penanda masuk waktu salat, awal Ramadan, saat buka puasa dan sahur.

Baca juga:  Pemda DIY Persiapkan Perbaikan Ruas Jalan Godean Mulai April

Tak mengurangi nuansa-nuansa tradisional yang kental, pada bangunan utama masjid itu, dibentuk Joglo. Bahkan, di dalam masjid ada mimbar tua yang terbuat dari kayu jati dengan ornamen pada pegangan mimbar. Mimbar tersebut juga dilengkapi dengan tongkat yang akan dipakai oleh khatib pada saat memberikan khotbah.

Setiap sore, sayup-sayup suara anak mengaji akan terdengar di Masjid Pathok Negoro itu. Bisa dipastikan, Masjid yang didirikan Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) I itu tidak pernah sepi aktivitas.

“Selama Ramadan, kegiatan di masjid akan terus ada. Bisa berupa pengajian untuk anak-anak, orang tua, salat tarawih, tadarus, itikaf, hingga salat malam. Untuk berbuka puasa, takjil maupun makanan akan disediakan masyarakat sekitar. Bahkan, setiap Ramadan bisa dari sore sampai pagi ada kegiatan. Terkadang pagi hari menjelang sahur kita adakan kegiatan sahur bersama,” kata Ketua Takmir Masjid Pathok Negoro, Plosokuning, Kamaludin Purnomo, Rabu (20/3/24).

Baca juga:  Operasional TPST Tamanmartani belum Maksimal

Masjid Pathok Negoro Plosokuning konsisten dengan kitab kuning dalam bersyiar. Karena merupakan tradisi yang sudah berjalan secara turun temurun, sehingga telah terpatri kuat di kampung Plosokuning. Meskipun, tak mudah menjaga komitmen ini. Terlebih dinamika jaman terus terjadi. Sehingga rentan masuk ideologi yang bertentangan dengan agama dan Pancasila.

“Kami berpatokan pada kitab kuning, pengajian yang ori tidak ada tambahan. Sekarang kan banyak unsur radikalisme diciptakan, di masjid ini tidak ada. Hanya ngaji dengan santun berdasarkan kitab kuning, sistematis dan sangat mengena,” akunya.

Baca juga:  Ratusan Warga Serbu Pasar Murah di Gowosari

Lebih lanjut, Kamaludin berkisah, keberadaan Masjid Pathok Negoro Plosokuning kini juga telah dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2011 tentang Benda Cagar Budaya. Meskipun sekarang, kawasan sekitar masjid Pathok Negoro Plosokuning berupa kawasan padat dengan beragam fungsi, seperti pemukiman, pendidikan, perdagangan, jasa, dan pertanian. Namun nuansa cagar budaya tetap dilestarikan. (bam/abd)